oleh

Jembatan Gantung Lama di Jombang Jadi Sejarah Perjuangan Masyarakat

Jombang, Jurnal Jatim – Berbicara soal jembatan, ada sebuah jembatan yang bisa dibilang memiliki kenangan bagi masyarakat di Kabupaten Jombang, Jawa Timur yaitu jembatan gantung lama yang berada di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan.

Jembatan tersebut bisa dibilang menjadi sejarah masyarakat sekitar yang kala itu berjuang melewati jembatan secara bergantian karena menjadi satu-satunya sarana penghubung utama saat itu.

“Dulu, kalau mau ke desa lain ya lewat jembatan ini semua,” ujar salah satu warga desa setempat, Sulastri, ditemui wartawan di desa tersebut, Minggu (10/10/2021).

Sekarang, jembatan  penghubung Desa Klitih dengan Desa Jipurapah yang sudah berusia puluhan tahun tersebut tak lagi difungsikan sebagai sarana penghubung utama di desa tersebut karena kondisinya sudah tampak mulai rusak.

Tiang pancang, kerangka, kawat seling yang digunakan untuk menggantungkan papan jembatan tampak sudah berkarat. Bahkan, sebagian papan kayunya sudah lepas dan hilang.

“Sekarang sudah tidak dilewati, tapi kadang-kadang masih dipakai orang-orang di sini untuk jalan,” kata Sulastri.

Namun, jembatan gantung yang dibuat dari papan kayu dengan kerangka besi dan kawat seling sebagai penyangganya ini masih nampak kokoh berdiri di Kali Gede desa setempat.

“Jembatan ini umurnya sudah puluhan tahun sejak saya masih kelas 3 SD sampai sekarang anak saya sudah kelas 3 SMP,” kata warga Pojok Klitih itu, Minggu (10/10/2021).

Dahulu, kehidupan masyarakat sekitar pinggiran Jombang itu bergantung pada jembatan gantung tersebut. Sebab, jembatan itu merupakan satu-satunya penghubung antar desa hingga satu-satunya jalur menuju ke pusat kota.

Jembatan Gantung Lama di Jombang Jadi Sejarah Perjuangan Masyarakat

Untuk melewati jembatan itu, warga harus melintas secara bergantian. Selain karena pertimbangan keselamatan dengan kekuatan beban yang bisa ditahan oleh jembatan, juga karena lebar jembatan sangat kecil. Hanya satu kendaraan roda dua saja. Sementara roda empat tidak bisa melintas.

“Kalau lewat ya gantian dari sini dulu, lalu baru yang diujung satunya baru bisa lewat,” ujarnya.

Jika tidak ada jembatan itu, maka aktivitas warga, ketika itu bisa lumpuh. Mereka akan terisolasi jika tidak ingin menembus lebatnya hutan dan berputar lebih jauh melintasi wilayah Nganjuk.

Sulastri menuturkan, beberapa tahun silam desanya pernah dilanda banjir bandang. Air sungai di bawah jembatan gantung itu meluap hingga menggenangi rumah penduduk sekitar.

“Dulu pernah banjir di sini, dan saat itu kami tidak bisa kemana-mana,” ungkap dia.

Meski sudah tak digunakan lagi, Jembatan dengan panjang sekitar 30 meter tersebut terkadang masih sering dilewati warga di sana hanya untuk jalan kaki saja. Maklum, jembatan itu adalah salah satu saksi sekaligus kenang-kenangan bagi mereka.

Akhir Desember 2017 silam, Pemerintah Kabupaten Jombang meresmikan pembangunan jembatan baru yang ada disamping jembatan gantung tersebut. Jembatan baru itu memiliki panjang 42 meter dan lebar 4 meter sehingga bisa dilalui kendaraan roda empat.

“Jembatan baru ini mungkin adanya baru sekitar lima tahun yang lalu,” ujar Sulastri.

 

Dapatkan update berita menarik lainnya hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow Jurnaljatim.com di Google News.

 

Editor: Azriel