Perajin Tahu di Jombang Keluhkan Kenaikan Harga Kedelai, Bingung Siasati Produksi

Jombang, Jurnal Jatim – Kenaikan harga kedelai sebagai bahan untuk pembuatan tahu dalam waktu kurang lebih dua minggu ini membuat para perajin tahu di Jombang, Jawa Timur, kelabakan menyiasati produksi.

Seperti disampaikan perajin tahu asal dusun Kebonmlati, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang Mohammad Efendi (35). Ia harus mengurangi produksi tahu agar usaha produksi tahu bisa terus berjalan.

Efendi mengatakan, di desa Sumbermulyo terdapat sekitar 40 perajin tahu, termasuk dirinya. Efendi pun mengaku kelabakan karena harga bahan baku kedelai terus naik.

Diceritakan Efendo, kenaikan harga kedelai terjadi sebelum harga BBM (bahan bakar minyak) naik.

Dua bulan sebelumnya harga masih Rp10.600 per kilogram kemudian naik Rp1.000 usai harga BBM naik. Lalu, satu bulan terakhir, ia menyebut, harga kedelai naik dari Rp11.600 menjadi Rp17.600.

Ia mengaku, tidak bisa berbuat banyak ketika harga kedelai terus merangkak naik. Agar usahanya bisa terus bertahan, dirinya pun terpaksa mengajukan pinjaman.

“Mau gak mau usaha (tahu) kayak gini supaya bisa bertahan dan tetap kerja. Terus terang saya mengajukan pinjaman,” kata Efendi kepada JurnalJatim, kamis (29/9/2022) malam.

Dirinya mengaku dalam sehari memproduksi tahu sebanyak 4 kuintal atau 400 kg. Kalau ukuran karung butuh 8 karung ukuran 50 kg. Bahan itu dimasak 12 kali pemasakan untuk melayani 12 orang pedagang eceran.

Namun, akibat kenaikan biaya produksi, ada beberapa pelanggan yang pergi.

“Kalau bisa ada perubahan harga, agar sesuai antara biaya produksi dan jual,” kata Efendy di tempat produksi tahu desa setempat.

Melihat perkembangan harga bahan baku yang terus naik, terpaksa pilihannya adalah mengurangi jumlah produksi. Sebab, untuk memperkecil ukuran tahu tidak memungkinkan karena persaingan pasar.

“Yang penting masih dalam zona aman, meskipun masih khawatir karena masih ada tanggungan hutang,” ungkap perajin tahu yang memulai usaha sejak 2007 silam.

Sementara itu, Susanto (51) pedagang kedelai di Desa Bandung, Kecamatan Diwek membenarkan kenaikan harga kedelai.

Selama 2 Minggu terakhir harga kedelai yang awalnya Rp11.900, kini perlahan harga kedelai naik Rp12.600 perkilogram.

“Kedelai lokal harganya Rp11.200 per kilogram. Dampaknya kenaikan kedelai impor, hampir 80 persen,” terang pedagang kedelai yang sudah mulai berjualan sejak 2005.

Menurut Susanto, kenaikan paling tinggi yang pernah dirasakannya 2 tahun terakhir, dimana kedelai masih diharga Rp6 ribu, tapi lambat laun sampai sekarang harga kedelai alami kenaikan hampir 2 kali lipat, sehingga di tahun 2020 sebelumnya daya beli masih tinggi, dibandingkan tahun sekarang.

Ia menduga ada kemungkinan kenaikan harga kedelai ini karena suplai kedelai di masyarakat dikurangi, jadi harganya tinggi.

“Dua tahun terakhir ini kedelai naik terus. Dan kita sebagai pedagang, berharap harga kedelai ini bisa kembali seperti semula, agar konsumen atau para pembeli dari produksi tahu, tempe, juga dapat meningkatkan harganya produksi nya ke masyarakat,” pungkas penjual kedelai sudah berjualan 17 tahun ini.

Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com