oleh

17 Titik Tanggul Rawan Longsor di Daerah Aliran Sungai Brantas Jatim

Surabaya, Jurnal Jatim – Curah hujan di Jawa Timur yang tinggi di penghujung tahun 2020 diprediksi berlanjut di 2021. Perum Jasa Tirta (PJT) I mencatat 17 titik tanggul rawan longsor di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas.

“Untuk potensi banjir kami mencatat ada 17 titik (tanggul yang rawan longsor) di DAS Brantas. Mulai dari Kediri hingga Gresik,” kata Dirut PJT I, Raymond Valiant Ruritan saat dikonfirmasi, Jumat (11/12/2020).

Rinciannya, ada tiga di Kabupaten Kediri, dua di Nganjuk, lima di Jombang, tiga di Sidoarjo, dua di Kabupaten Mojokerto, dan dua di Gresik.

Kerawanan banjir dengan kondisi tanggul yang kritis menjadi sangat besar. Untuk itu, di tengah COVID-19, ia meminta pemerintah tetap mewaspadai potensi banjir yang belum bisa diprediksi.

Raymond menjelaskan, curah hujan saat ini terus mengalami peningkatan. Di tahun 2019, tingkat curah hujan mencapai 1.250 milli meter per tahun.

Di tahun 2020 sekitar 1.450-1550 mm per tahun. Sementara pada tahun 2021 diperkirakan lebih dari 1550 mm per tahun.

“Kondisi akan lebih basah, karena curah hujan lebih tinggi. Di tahun 2021 curah hujan di DAS Brantas diperkirakan lebih dari 1500 mm per tahun,” ucapnya.

“Ditambah lagi kondisi pengelolaan lingkungan yang cenderung mengakibatkan berkurangnya resapan. Sehingga potensi banjir lebih tinggi, termasuk tanah longsor,” lanjutnya.

Ditanya mengenai daya tampung sungai dan bendungan yang dikelola PJT I, ia memastikan kapasitasnya masih mencukupi.

“Kalau daya tampung sungai dan bendungan masih aman. Tapi kami tidak bisa mengendalikan banjir di luar itu, seperti banjir yang menggenangi jalan raya atau wilayah pemukiman,” ujarnya.

Selain itu, potensi bencana longsor juga cukup besar di DAS Brantas sisi hulu di wilayah Malang Raya.

“Seperti di Pujon Malang, sering terjadi longsor. Rata-rata terjadi karena daerah tangkapan air hujan yang semestinya bisa terserap dalam tanah mulai banyak berkurang,” katanya.

Untuk itu, ia mengimbau agar masing-masing individu untuk bersama-sama menciptakan perilaku pencegahan banjir. Salah satunya dengan menghindari pencermaran lingkungan khususnya di bantaran Sungai Brantas.

Mengingat, limbah domestik di Brantas, baik padat berupa sampah dan cair yang berasal dari masyarakat persentasenya cukup besar mencapai 60 persen.

 

Editor: Hafid