Jombang, Jurnal Jatim – Hasil lengkap pertemuan forum Sesepuh dan Mustasyar NU di Tebuireng Jombang terkait dinamika PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Sabtu (6/1202025).
Silaturahmi Sesepuh dan Mustasyar NU digagas oleh dr Umar Wahid cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ditandatangani Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz. Silaturahmi tersebut juga dihadiri Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU.
Jajaran Musytasar yang hadir langsung di Tebuireng antaranya KH Said Aqil Siradj; KH Anwar Manshur; KH Nurul Huda Djazuli; dan Hj. Mahfudloh Wahab.
Kemudian dari Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU yakni Mohammad Nuh; Nur Hidayat; KH. Ali Akbar Marbun; KH. Said Asrori; KH Yahya Cholil Staquf; KH Mu’adz Thohir; Amin Said Husni dan Sumantri. Pertemuan mulai pukul 11.00 hingga 17.30 WIB.
Juru bicara Forum Sesepuh dan Musytasar NU, Abdul Muid mengatakan bahwa Forum Sesepuh dan Mustasyar NU menyampaikan belasungkawa serta keprihatinan mendalam atas musibah banjir, longsor, dan berbagai bencana lain yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
“Forum mendoakan masyarakat yang terdampak diberi kesabaran, ketabahan, keselamatan, serta segera mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan,” ujar Muid saat jumpa pers di Tebuireng Jombang, Sabtu (6/12/2025), malam.
Ia menyampaikan Forum mengharapkan pemerintah melakukan upaya maksimal dan optimal dalam memberikan bantuan dan pertolongan kepada masyarakat yang tertimpa bencana.
Pemerintah diharapkan mengambil langkah strategis dan antisipatif untuk mencegah terjadinya bencana serupa di kemudian hari, termasuk menindak tegas pihak-pihak baik individu maupun korporasi yang terbukti menyalahi aturan dalam mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan.
“Forum juga mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk saling bahu membahu serta terlibat aktif dalam memberikan bantuan kepada para korban bencana,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Muid dari Lirboyo didampingi Abdurrahman Kautsar dari Ploso dan KH Imron Mutamakkin dari Pasuruan menyampaikan sikap dan dinamika di organisasi PBNU.
Menurut Gus Muid, forum berpandangan bahwa proses pemakzulan Ketua Umum tidak sesuai dengan aturan organisasi sebagaimana ketentuan AD/ART.
Meski demikian, forum juga melihat adanya informasi kuat terjadinya pelanggaran atau kekeliruan serius dalam pengambilan keputusan oleh Ketua Umum, yang perlu diklarifikasi melalui mekanisme organisasi secara menyeluruh.
“Forum merekomendasikan agar Rapat Pleno utk menetapkan PJ tidak diselenggarakan sebelum seluruh prosedur dan musyawarah diselesaikan sesuai ketentuan organisasi,” ujarnya.
Dikatakan Gus Muid, Forum Sesepuh mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, menjaga ketertiban organisasi, dan menghindari langkah yang berpotensi memperbesar ketegangan.
“Forum menegaskan bahwa persoalan ini hendaknya diselesaikan melalui mekanisme internal NU, tanpa melibatkan institusi atau proses eksternal, demi menjaga kewibawaan jam’iyyah dan memelihara NU sebagai aset besar bangsa,” ujarnya.
Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com






