oleh

Praktik Penimbunan BBM Bersubsidi di Tuban Berjalan 2 Bulan, Ini Modusnya

Tuban, Jurnal Jatim – Petugas Satreskrim Polres Tuban, Jawa Timur, membongkar praktik penimbunan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar di wilayah hukum setempat yang diduga menyalahi aturan.

BBM solar bersubsidi tersebut ditimbun di gudang milik Saiful Alfdhon di Desa Siding, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Satu orang yakni pemilik gudang ditetapkan polisi sebagai tersangka dalam kasus itu. Namun demikian, sementara ini tersangka belum dilakukan penahanan.

Selain itu, polisi mengamankan barang bukti berupa dua drum besar atau bull yang berisi 900 liter solar bersubsidi dari sisa penjualan.

“Kita berhasil ungkap kasus penimbunan BBM subsidi jenis solar di wilayah Bancar,” kata Kapolres Tuban AKBP Rahman Wijaya dalam jumpa pers di halaman mapolres setempat, Rabu (7/9/2022).

Polisi melakukan penyelidikan penimbunan BBM solar bersubsidi tersebut dari keresahan masyarakat. Hingga kemudian ditemukan lah lokasi penimbunan solar subsidi tanpa izin, Jumat (31/8/2022) sekitar pukul 19.30 Wib.

“Pengakuan pelaku, informasinya sudah berjalan dua bulan lebih,” tambah Kasat Reskrim Polres Tuban AKP M Gananta.

Adapun modusnya, tersangka membeli BBM solar subsidi di sejumlah SPBU di wilayah Tuban dengan menggunakan tangki dan dilakukan penimbunan.

Setelah itu, solar dijual kembali ke sejumlah pelanggan dengan cara diecer dan harganya di atas harga subsidi.

“Modus cara mendapatkan BBM biasanya pelaku menggunakan tangki kecil seperti drum dikumpulkan di rumahnya. Pakai sepeda motor beli di sejumlah SPBU Tuban,” kata perwira tiga balok emas di pundak ini.

Sampai saat ini, Gananta menyebut, anggota masih mengembangkan kasus itu karena disinyalir masih ada tempat kejadian perkara (TKP) penimbunan BBM solar subsidi.

Kendati demikian, lokasi yang disinyalir itu tidak termasuk dalam jaringan pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka ini.

“Jadi sampai sekarang masih melakukan pengembangan terhadap yang kita amankan ini. Kita lakukan pengembangan karena disinyalir masih ada TKP penimbunan lainnya. Beda jaringan,” kata Gananta.

Tersangka terancam pasal 40 ayat (9) UU Republik Indonesia nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Jo Pasal 53 UURI Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Dengan hukuman pidana penjara paling lama 3 tahun.

Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com