oleh

Jaksa Pastikan Tuntutan Maksimal Terdakwa Motivator SPI Batu

Surabaya, Jurnal Jatim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jawa Timur akan menuntut maksimal dalam sidang pembacaan tuntutan perkara dugaan pencabulan motivator Julianto Eka Putra alias JE, terhadap siswi Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), Kota Batu Rabu (19/7/2022).

Selain itu, Jaksa juga meminta restitusi atau ganti rugi korban. Rencana tuntutan maksimal dan meminta ganti rugi itu disampaikan Kepala Kejati Jawa Timur, Mia Amiati.

Ia menyatakan, pihaknya sudah melakukan konsultasi atas rencana tuntutan yang akan dibacakan bedok oleh JPU di Pengadilan Negeri Kota Batu, Malang.

“Tadi sudah datang ke Batu dan sudah konsultasi. Tahapan sidang tinggal membacakan tuntutan, kami punya kesimpulan dan ada keyakinan ada kesalahan dari terdakwa Julianto,” ujarnya di Surabaya, Selasa (19/7/2022).

Menurut Mia, berdasarkan fakta persidangan, ada 9 korban dalam perkara tersebut. Namun, diakuinya hanya 1 yang menjadi saksi pelapor. Kondisi itu pun dipersamakan dengan perkara dugaan pencabulan anak kiai Jombang, yakni ada 5 orang saksi korban, namun hanya ada 1 pelapor.

“Teman-teman JPU berkeyakinam adanya persetubuhan Julianto tersebut dengan cara melakukan tipu muslihat berupa memberikan motivasi atau kata-kata kepada murid didiknya, merayu dan meyakinkan saksi korban. Fakta dari persidangan ada 9 korban tapi hanya 1 kesaksian yang terbuka, di sini kami juga sudah periksa 20 orang saksi termasuk forensik, psikolog, dan pidana,” ujarnya.

Dalam perkara tersebut, JPU akan melakukan tuntutan secara maksimal kepada terdakwa. Namun, Mia engga menyebut berapa tuntutan yang akan dibacakan besok.

“Yang jelas ancaman pidana maksimalnya 15 tahun penjara,” katanya menegaskan.

Disinggung soal tuntutan restitusi atau ganti rugi untuk korban, Mia memastikan hal itu sudah diakomodir dalam tuntutan JPU. Namun ia menyebut, tuntutan restitusi itu hanya akan didapat oleh saksi pelapor.

“Hanya saksi pelapor. Saksi pelapornya kan hanya satu. Sudah ada perhitungannya. Berapa besarannya nanti akan dibacakan dalam tuntutan besok,” ungkapnya.

Dalam perkara itu, terdakwa diancam dengan Pasal 81 ayat (1) Jo Pasal 76D Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP, Ancaman Pidana Maksimal 15 tahun.

Atau kedua Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP; ancaman Pidana Maksimal 15 tahun.

Atau ketiga Pasal 82 ayat (1) Jo Pasal 76E  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP atau Keempat Pasal 294 ayat (2) ke (2) KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP; Ancaman Pidana Maksimal 15 tahun.

Atau keempat Pasal 294 ayat (2) ke (2) KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP ancaman Pidana Maksimal 7 tahun.

Dapatkanupdate berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, Jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com.