Surabaya, Jurnal Jatim – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) kelompok kerohanian Katolik Unesa (Universitas Negeri Surabaya) menggelar pelatihan Public Speaking siswa Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo Garum, Blitar.
Tujuannya untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang strategi public speaking melalui edukasi interaktif. Selain itu, melatih dan meningkatkan keterampilan siswa berbicara di depan umum.
Ketua panitia Kolektus Oky Ristanto, S.Pd., M.Pd, mengatakan kegiatan dilaksanakan di Aula Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo Garum, Blitar, pada Kamis (16/7/2026) Dibuka dan diterima oleh RD. Yuventius Fusi Nusantoro selaku Rektor Seminari dan RD. Silvester Elva Permadi, salah satu Pimpinan di Seminari.
Adapun Tim PKM Unesa 2026 yang terlibat yakni Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak, (Narasumber); Cicilia Deandra Maya Putri, S.Hum., M.A; Audrey Gabriella Titaley, S.Pd., M.Hum; Eufrasia Kartika Hanindraputri, M.Sos; George William Rifo Sandryano; Benedicta Keyse Karinadinata; Arinda May Palupi; Nicolas Christiantino Heivel dan Danny Laurence.
Kolektus mengatakan Seminari St. Vincentius a Paulo Garum sebagai lembaga yang mencetak calon pemimpin, telah membekali siswa SMA-nya dengan keterampilan menulis yang baik. Namun, ditemukan adanya kesenjangan kompetensi komunikasi yang holistik. Hal itu karena siswa belum mendapatkan pelatihan sistematis untuk mengonversi gagasan tertulis menjadi penyampaian lisan yang efektif, percaya diri, dan menarik.
“Padahal sebagai calon pemimpin umat, mereka sangat membutuhkan keterampilan public speaking praktis, seperti berkhotbah, memimpin doa, atau berbicara di depan komunitas untuk menunjang tugas pelayanan dan kepemimpinan di masa depan,” ujarnya.
Karena itu, PKM Unesa menyelenggarakan Pelatihan Public Speaking yang dirancang khusus untuk mengisi celah tersebut, dengan fokus pada teknik vokal, penguasaan panggung, penyusunan pesan yang persuasif, dan manajemen kecemasan.
“Sehingga siswa tidak hanya mampu menulis dengan baik tetapi juga mampu menyampaikan pemikiran dan nilai-nilai tersebut secara lisan dengan penuh wibawa dan dampak,” ujarnya.
Dia mengatakan, pelatihan itu selaras dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan berkontribusi pada peningkatan keterampilan hidup (life skills) dan kompetensi non-akademik yang esensial bagi peserta didik. Serta SDG 17 melalui kolaborasi sinergis antara Unesa dengan Seminari St. Vincentius a Paulo Garum.
“Kerja sama tidak hanya memungkinkan pertukaran pengetahuan dan sumber daya, tetapi juga menciptakan model kemitraan berkelanjutan untuk pengembangan kapasitas generasi muda, mendukung terwujudnya pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Sementara Cicilia Deandra menambahkan, dalam pelatihan itu para siswa mendapat sejumlah materi public speaking yang mencakup fondasi mental dan persiapan, merancang struktur dan konten pesan, serta teknik penyampaian.
“Pendekatan yang digunakan bersifat interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan simulasi untuk membantu siswa memahami konsep dengan mudah,” ujar Cicilia.
Edukasi tersebut juga dirancang untuk membangun keterampilan siswa dalam mengimplementasikan strategi pengelolaan demam panggung, menyusun topik presentasi yang terstruktur dan jelas, serta teknik menyampaikan pesan dengan vokal yang jelas dan olah tubuh yang mendukung.
Untuk melatih keterampilan berbicara di depan umum dan mendapatkan masukan untuk perbaikan, Beberapa peserta melakukan presentasi pendek dengan topik bebas yang relevan.
“Fasilitator bersama para siswa lainnya kemudian memberikan umpan balik dengan Teknik “Sandwich” berisi hal positif dan beberapa hal spesifik yang bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari dukungan pada perkembangan kompetensi siswa, fasilitator juga mengadakan sesi refleksi. Di mana aiswa merefleksikan pembelajaran dan berkomitmen untuk terus berlatih.
“Siswa menyusun rencana sederhana untuk memanfaatkan forum sehari-hari (seperti menjawab pertanyaan di kelas, memimpin doa, atau diskusi kelompok) sebagai tempat berlatih,” ujarnya.
Setelah edukasi, simulasi, dan refleksi, dilakukan pemantauan untuk memastikan siswa menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. Evaluasi dilakukan dengan cara memberikan angket untuk mengukur pemahaman siswa tentang strategi dan keterampilan public speaking setelah kegiatan.
Selain itu, sekolah diberikan rekomendasi lanjutan, seperti pelatihan debat, presentasi akademik, dan/atau penyelenggaraan sesi edukasi berkala untuk mendukung keberlanjutan program.
“Laporan hasil kegiatan disampaikan kepada pihak sekolah untuk dijadikan acuan dalam meningkatkan keterampilan siswa di masa depan. Kegiatan ini juga akan menjadi model bagi kegiatan serupa di sekolah lain,” pungkasnya.
Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com








