Kediri, Jurnal Jatim – Para masyayikh dan sejumlah tokoh masyarakat menggelar pertemuan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur menjelang pelaksanaan Munas dan Konbes NU 2026.
Para masyayikh pesantren menyampaikan sejumlah pandangan terkait isu-isu yang berkembang jelang pelaksanaan Munas dan Konbes NU 2026, terutama mengenai mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
KH Abdul Rahman Al-Kautsar, usai pertemuan menyampaikan, para masyayikh berharap tidak ada pembahasan maupun penetapan materi yang berpotensi mengurangi hubungan historis, kultural, dan spiritual antara NU dengan kalangan pesantren serta para ulama.
Para kiai sepuh tersebut menilai AHWA perlu dipertahankan sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, luasnya pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan NU.
Menurut Gus Kautsar, sapaan akrabnya, para masyayikh juga mengingatkan pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada jabatan struktural atau keterwakilan kewilayahan dalam mekanisme AHWA berpotensi menggeser fungsi forum dari wadah keulamaan menjadi forum representasi struktural.
“Hal demikian dinilai dapat mempersempit ruang khidmah ulama pesantren yang memiliki otoritas keilmuan dan kewibawaan keagamaan, namun tidak berada dalam struktur organisasi atau tidak terakomodasi dalam skema keterwakilan wilayah,” kata dia.
Lebih lanjut, menurut pandangan para masyayikh, jika kondisi tersebut terjadi dalam jangka panjang, hubungan historis antara NU dan pesantren dikhawatirkan dapat melemah. Mereka juga menilai fungsi ulama sebagai penjaga arah perjalanan organisasi perlu terus diperkuat.
Selain itu, para masyayikh meminta agar aturan-aturan organisasi yang selama ini telah berlaku tetap dipertahankan, termasuk ketentuan mengenai larangan rangkap jabatan antara posisi pimpinan tertinggi organisasi dengan jabatan eksekutif tertentu.
Terkait isu perubahan mekanisme AHWA yang belakangan berkembang, disebutkan bahwa hingga saat ini belum terdapat perubahan resmi. Namun demikian, para masyayikh mengingatkan agar setiap wacana perubahan tidak dilakukan secara tergesa-gesa mengingat adanya aspek historis, kultural, dan tradisi organisasi yang perlu dijaga.
“Silaturahmi ini pada dasarnya membahas bagaimana NU tetap berjalan sesuai khidmah, fikrah, dan manhaj yang telah digariskan para pendiri,” ujarnya.
Forum silaturahmi masyayikh dan sejumlah tokoh masyarakat yang digelar di Ponpes Al Falah Kediri jelang Munas Alim ulama dan Konbes NU diikuti KH Ma’aruf Amin, KH Nurul Huda, KH Said Aqil Siradj, KH Afabini Mahrus, KH Ubaidillah Shodaqoh, KH Mas’ud Masduqi, KH Syatibi, KH Asep Syaifudin, dan KH Ali Kholil.
Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com






