oleh

Tekuni hobi kerajinan topeng, pelajar Jombang hasilkan pundi-pundi uang

Jombang, Jurnal Jatim – Berawal daro menekuni hobi, pelajar di Jombang, Jawa Timur, Prayogi Irwantiantoro (18) sukses hasilkan aneka topeng dan miniatur kayu yang sekaligus dipasarkan melalui media sosial hingga hasilkan pundi-pundi.

Remaja asal Dusun Kemuning, RT 09/RW 03, Desa Tanggungan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang tersebut telah menghasilkan pundi-pundi uang hingga jutaan rupiah.

Yogi menceritakan, mulai menekuni kerajinan topeng sejak duduk di bangku kelas 9 SMP. Bermula dari kurangnya uang saku pemberian orangtuanya yang ekonominya pas-pasan, dia lalu iseng membuat mainan miniatur topeng jaranan dari bahan kayu.

“Belajar otodidak, awalnya iseng lalu saya tekuni sampai sekarang ini,” kata pelajar kelas 11 SMKN Gudo, Jombang tersebut, Sabtu (3/4/2021).

Setelah itu, putra dari pasangan Wignyo Nugroho (46), dan Rumiyati (41) mengunggah hasil karyanya di media sosial facebook miliknya. Tak disangka, ada yang suka dan membelinya.

“Setelah saya posting di facebook, ternyata hasil karya pertama kali yang masih ala kadarnya saat itu ada yang membeli dengan harga Rp25 ribu. Ya, saya kasihkan,” tuturnya.

“Alhamdulillah bisa hasilkan uang buat tambahan saku sekolah dan bantu orang tua,” lanjut Yogi ditemui dirumahnya.

Karena karyanya membawa hasil, dia kembali membuat miniatur dengan lebih dipercantik lagi dibanding yang pertama. Setelah itu, kembali diunggah ke medsos.

“Dari situ saya membuat lagi dengan alat seadanya. Tapi saya maksimalkan lagi sehingga lebih bagus dari yang pertama. Saya jual di facebook. Harga untuk miniatur topeng jaranan saya jual sebesar Rp300 ribu,” katanya.

Dari situlah, Yogi terus mengembangkan dengan membuat kerajinan tangan yang terbuat dari bahan kayu waru. Yogi mulai menambah koleksi dengan membuat topeng jaranan, bantengan, barongan berukuran standar yang biasa digunakan bermain kesenian tradisional.

“Lalu saya membuat yang lebih besar. Saya posting di facebook, ternyata laku. Harga paling tinggi yang terjual sebesar Rp 1,5 juta. Itu topeng barongan dibeli orang Lamongan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, bahan pembuatan miniatur dari bahan limbah kayu randu. Sedangkan topeng besar menggunakan bahan kayu waru. Bahan kayu itu ia beli dari orang-orang yang dikenalnya.

“Saya beli dari orang seharga Rp400 ribu dengan ukuran 16 sentimeter sampai 23 sentimeter,” jelas dia.

Kayu yang dibeli itu dipotong-potong bagian samping hingga membentuk segi empat kemudian digambar sesuai pola menggunakan spidol. Setelah itu dibentuk menggunakan gergaji tangan mengikuti pola.

Yogi kemudian mengukir bagian-bagian seperti mata, hidung, kumis, dan bagian rumit lainnya menggunakan tata dan merapikan bagian dalamnya memakai cutter.

Usai diukir dan sudah berbentuk, topeng dihaluskan dengan kertas gosok lalu dilakukan pengecatan awal, atau cat pelapis menggunakan epoxy. Setelah kering baru di cat menggunakan cat mobil dengan kuas.

“Yang terakhir agar topeng kelihatan mengkilat, saya cat lagi dengan pilox, lalu saya jemur. Setelah kering, baru saya menambah mainan hiasannya,” ujarnya.

Menurut Yogi, lama proses pembuatan topeng tidak pasti, tergantung ukuran serta tingkat kerumitannya. Paling cepat, bisa selesai selama dua minggu, dan paling lama sekitar satu bulan lebih.

Selama tiga tahun terakhir menggeluti kerajinan topeng, Yogi mengaku tak ingat penghasilan yang diperoleh dari hasil penjualannya. ia hanya menyebut sudah jutaan rupiah uang yang sudah dihasilkannya.

“Tidak mesti (penghasilannya) pak, karena untuk membuat topeng kan sekitar satu bulan. Kalau dulu pas masuk sekolah ya sampai dua bulan bikinnya. Sehingga lakunya tidak mesti saat itu juga. Kalau sampai saat ini ya sudah jutaan-lah pak,” katanya.

Meski kerajinannya sudah berjalan, Yogi mengaku masih mengalami kendala. Yakni butuh modal untuk mengembangkan usahanya. Dia membutuhkan alat yang memadai atau lebih modern, serta terkendala pemasaran yang masih hanya lewas medsos saja.

“Pembeli kebanyakan lewat online, mereka dari Jombang, Kediri, Nganjuk, Lamongan, Bojonegoro dan Palembang,” pungkasnya.

 

Editor: Hafid