oleh

Produksi Tahu di Jombang Berhenti Akibat Harga Kedelai Naik Rp9,3 Ribu

Jombang, Jurnal Jatim – Pabrik tahu di Dusun Bangle, Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur terpaksa berhenti beroperasi akibat harga kedelai yang melonjak. Alasannya jika proses produksi terus berlanjut maka akan mengakibatkan kerugian yang semakin besar.

Pemilik usaha tahu, Sudirman menuturkan aktivitas usahanya sudah lima hari berhenti sejak harga kedelai naik sekitar Rp2 ribu dari harga semula kisaran Rp6,3 sekarang menjadi Rp9,3 ribu per kilogram.

“Berhenti sementara sejak 5 hari ini karena harga kedelai naiknya sangat luar biasa, harganya sudah mencapai Rp9,3 ribu per kilogram,” kata Sudirman, Selasa (5/1/2021).

Ia menyebut, ada sekitar 20 pekerja yang menggantungkan hidupnya di usaha rumahan miliknya. Dalam kondisi normal, pabriknya dapat memproduksi 1,5 ton kedelai menjadi tahu siap dipasarkan.

“Kondisi saat ini benar-benar dilema ya, mau kerja produksi itu resikonya sangat tinggi, kalaupun tidak bekerja itu gimana ya, jadi kadang-kadang kerja itu terlalu berisiko. Sekarang banyak berhenti kerja karena harga kedelai sudah tidak bisa diatur lagi,” ujarnya.

Selama berhenti beroperasi, sebagian dari perajin tahu memanfaatkan untuk membersihkan peralatan produksi agar tidak rusak. Sebab sebelumnya seluruh peralatan itu tidak pernah berhenti seperti saat ini.

Sudarman mengatakan, meski harga kedelai tetap tinggi namun harga pasar tidak bisa dinaikkan. Sebab banyak perajin makanan dengan bahan baku kedelai akan gulung tikar.

Lantaran tak ingin puluhan pekerjanya kehilangan penghasilan, Sudirman mengaku tetap akan mengoperasikan usahanya meskipun harga kedelai belum turun.

Agar kerugiannya tidak terlalu besar, maka ukuran besar tahu akan dikurangi dari yang awalnya 65 potong setiap cetakan menjadi 70 potong.

“Sementara ya mengecilkan irisan (potongan) tahu yang biasanya 65, sekarang 70,”ucapnya.

Sudirman berharap pemerintah segera turun tangan menyikapinya agar harga kedelai bisa kembali normal sehingga para pegawai yang bekerja di tempatnya bisa beraktivitas seperti semula.

 

Editor: Azriel