oleh

Musik Tongkling Seni Perpaduan Kentongan dan Seruling di Magetan

Magetan, Jurnal Jatim – Selain memiliki kesenian Ledug (lesung dan bedug), Magetan, Jawa Timur juga mempunyai kesenian musik Tongkling yang belum banyak diketahui oleh masyarakat.

Bicara perihal adat istiadat dan budaya yang ada di Kabupaten Magetan kurang lengkap rasanya jika tidak berbicara tentang kesenian musiknya, salah satunya adalah Tongkling.

Istilah Tongkling berasal dari kentongan dan seruling. Kedua alat musik tradisional itu menjadi cikal bakal lahirnya kesenian musik Tongkling di Dusun Wonomulyo, Desa Genilangit, Kecamatan Poncol, Magetan.

Konon, Dusun Wonomulyo dulu namanya Njeblog. Kala itu alat kentongan digunakan sebagai komunikasi antar perangkat desa sekaligus pembasmi hama dan hewan buas yang sering muncul menyerang warga.

“Dulu pamong atau perangkat desa kalau berkomunikasi sama masyarakat pakainya kentongan,” kata salah satu sesepuh Dusun dan juga pemain musik Tongkling, Supono, Sabtu (16/7/2022).

Menurut Supono, masyarakat Wonomulyo, khususnya para petani kalau mengamankan tanaman dari hama (babi hutan, kera, lutung, dan sebagainya) juga memakai kentongan.

Jauh sebelum Dusun Wonomulyo banyak dihuni orang, tempat tersebut merupakan hutan belantara tempat hewan buas dan jin tinggal.

Pelestari Tongkling, Darsono menambahkan, musik Tongkling diawali dengan seruling yang sering digunakan oleh pendiri dusun Wonomulyo, Eyang Ki Hajar Wonokoso untuk menaklukkan jin dan hama, yang kerap menganggu kenyamanan warga.

“Setiap jam 12 malam nyuling kaleh ngidung (Setiap jam 12 malam memainkan seruling dan menyanyikan tembang jawa),” katanya.

Supono, Darsono, Saringat dan almarhum Jono berupaya melestarikan keberadaan alat musik tersebut dengan mendirikan sebuah grup bernama Tongkling Pringgowulung.

Seiring kemajuan, kentongan dan seruling dikolaborasikan dengan beberapa alat musik lain yang terbuat dari bambu. Di antaranya kentong bonang, imbal, ketir, angklung, gitar bambu, bass bambu, ketipung dan alat musik pendukung lainnya.

Pertunjukan penuh Tongkling yang diselingi narasi Dusun Njeblog yang saat ini disebut sebagai Wonomulyo ini dibabad oleh Eyang Ki hajar Wonokoso.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyaksikan pertunjukan penuh dari kesenian Tongkling itu lebih kurang adalah 30 sampai 40 menit.

Supono dan kawan-kawan yang tergabung grup kesenian Tongkling Pringgowulung saat ini sudah menciptakan 5 lagu di antaranya adalah pencak pendowo, dolan wonomulyo, wonomulyo handayani, negeri di atas awan, dan wanawisata.

Supono menambahkan bahwa Tongkling merupakan seni musik pengikat sejarah. Adanya seni musik itu membuat generasi sekarang bisa paham babad, awal mula adanya Wonomulyo itu.

“Sejarah diikat dalam sebuah kesenian musik Tongkling. Setiap pertunjukan lengkap Tongkling yang selalu diikuti dengan unsur sulingan, kidungan dan narasi menceritakan babad dusun wonomulyo,” ujar Supono.

Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com.