Pria di Jombang 12 Tahun Bertahan Geluti Usaha Ternak Ulat Kandang

Jombang, Jurnal Jatim – Usaha untuk memperoleh pendapatan ekonomi beragam cara dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya ternak ulat yang ditekuni selama 12 tahun oleh pria Jombang bernama Mahfud.

Di tangan laki-laki usia 50 tahun ini, binatang ulat yang terkesan menjijikkan diternakkan untuk menghasilkan pendapatan ekonomi.

Pengakuan warga Dusun sawi, Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto ini, ia menangkarkan jenis ulat kandang untuk pakan burung kicau.

“Ini ternak ulat kandang, untuk pakan burung piaraan, burung berkicau,” kata Mahfud di kandang penangkaran, Minggu (30/10/2022).

Bukan lah waktu yang pendek, Mahfud menghabiskan waktu menggeluti usaha peternakan tersebut sudah puluhan tahun. Dari saat harga bahan pakan sama harga jual masih relatif seimbang.

“Dua belas tahunan, mula-mula regane (harganya) imbang antara pakan, bahan dasar sama ulat harganya imbang,” ujar pria paruh baya ini.

Setelah merebak virus COVID-19, kemudian kedatangan perang Ukraina melawan Rusia membuat harga bahan baku terpengaruh. Bahan baku pakan yang dimaksud dari dedak gandum atau disebut Polar mengalami kenaikan harga usai peristiwa tersebut.

“Bulan kemarin naik 70 persen, dari harga 180 sampai naik harga 270 ribu, per sak 50 kg,” ujarnya.

Penangkaran ulat kandang di tempat Mahfud dimulai dari menyiapkan media berupa kotak penampungan yang berukuran empat persegi. Selanjutnya disiapkan indukan dari kepik (kumbang) yang diperoleh dari para pengepul.

Belum sampai di situ, lalu disiapkan pakan berupa polar di masing-masing kotak terus ditambahkan bonggol jagung. Kumbang indukan lantas dimasukkan kedalam masing-masing kotak.

Perhitungannya selama 2 hari kumbang bertelur, setelah 5 hari menetas. Setidaknya satu minggu sudah kelihatan anakan atau ulat kecil.

Untuk memaksimalkan pembiakan ulat kandang, umur 10 sampai 12 hari anakan ulat sudah dilakukan pemisahan.

Menggunakan ayakan dipisahkan antara anakan dengan indukan kumbang. Anakan lantas diberi makan secara teratur selama 12 hari. Jika sudah mengalami pertumbuhan massa ukuran ulat, baru bisa dilakukan penjualan.

Sementara harga jual ulat, Mahfud menyebut per kilogram mencapai Rp20 ribu dibeli sama tengkulak. Jika dibeli secara eceran harga naik sedikit.

Dalam sehari Mahfud bisa melakukan panen ulat kandang siap jual sebanyak 40 kilogram dari sekitar kurang lebih 1.000 kotak tempat budidaya.

Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com.