oleh

Konsumsi Ikan di Jombang Masih Rendah Meski Hasil Produksi Tinggi

Jombang, Jurnal Jatim Tingkat konsumsi ikan di kalangan masyarakat Kabupaten Jombang, Jawa Timur tercatat masih rendah meski hasil produksi ikan di daerah tersebut cukup tinggi.

Dinas Ketahanan Pangan Dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Jombang mencatat pada tahun ini tingkat konsumsi ikan masyarakat Jombang jauh dari target yang ditentukan.

“Tingkat konsumsi Ikan di Jombang ini masih rendah. Rata-rata per orang masih 83 gram. Sedangkan targetnya 150 perorang perhari,” kata kepala DKPP Jombang, Nur Kamalia saat sosialisasi Gemarikan dan peresmian klinik kesehatan ikan, Selasa (23/8/2022).

Jombang termasuk penghasil ikan Patin nomor dua se Jawa Timur. Dan nomor satu di Jawa Timur untuk produksi ikan Bawal. Jadi, kata dia, produksi ikan saat ini sudah cukup tinggi.

“Sosialisasi ini harapannya agar tingkat konsumsi ikan meningkat, seiring dengan meningkatnya kecerdasan, pengetahuan dan kesadaran masyarakat membudidayakan mengonsumsi ikan,” ujarnya.

Pengetahuan dan pola asuh keluarga dalam memberikan konsumsi bagi keluarga dan anak balita sejak dini melalui peningkatan pemberian konsumsi ikan diharapkan terus ditingkatkan.

Bupati Jombang yang hadir dalam sosialiasi tersebut menyebut ikan sangat relevan untuk mendukung perbaikan gizi masyarakat dan penanganan stunting. Ikan sebagai sumber protein memiliki beragam keunggulan dibandingkan produk hewan lainnya.

Ia menyatakan bahwa ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat baik untuk pertumbuhan sel-sel tubuh manusia. Kecerdasan, kesehatan dan keterampilan merupakan tiga indikator utama yang digunakan untuk mengukur sumberdaya manusia yang Berkarakter dan Berdaya Saing.

“Kepada semua yang hadir baik organisasi wanita, organisasi keagamaan, dan anak-anak sekolah untuk dapat mempromosikan Gemarikan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas SDM yang Unggul, Berkarakter dan Berdaya Saing,” ujarnya.

Ia juga mendorong pembudidaya perikanan serta kelompok pengolah dan pemasar (Poklasar) terus berinovasi meningkatkan karyanya, sehingga hasil perikanan bisa menjadi oleh-oleh khas Jombang yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Jombang.

Mengenai kasus stunting, Mundjidah Wahab menyebutkan prevalensi stunting di Jombang mengalami penurunan. Tahun 2018 sebesar 20,1 persen, turun menjadi 17,9 persen pada tahun 2019 dan tahun 2020 sebesar 16,9 persen.

Sementara itu, berdasarkan bulan timbang Februari 2021 sebesar 13,1 persen atau 9.462 balita yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Jombang. Sedangkan target angka stunting tingkat nasional harus menurunkan di angka 14 persen.

“Salah satu penyebab tingginya stunting di Jombang karena masih terbatasnya kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai gizi dan resiko stunting,” tandasnya.

Dapatkan update berita menarik lainnya hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di Google News.