oleh

Psikolog di Kediri Tepis Layang Putus dengan 5 Bahasa Cinta

Kediri, Jurnal Jatim Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur ingin masyarakat bisa mencegah terjadinya konflik keluarga seperti dalam cerita webseries Indonesia yang banyak diperbincangkan mulai dari remaja, dewasa, baik yang belum berkeluarga maupun yang sudah berkeluarga

Cerita series itu mengisahkan konflik yang terjadi tentang bagaimana hubungan suami dengan istrinya, anak dengan orang tuanya sukses membuat para penonton terbawa suasana.

Psikolog Tatik Imadatus memberikan edukasi melalui talkshow Tepis Layang Putus dengan 5 Bahasa Cinta yang ditayangkan langsung melalui instagram @harmonikediri pada 18 Maret 2022.

Talkshow bagian protokol dan komunikasi pimpinan Pemkot Kediri tersebut juga diikuti secara offline Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekretariat Daerah Kota Kediri saat pertemuan rutin (DWP) Kota Kediri, Jatim.

Tatik menuturkan, perlunya setiap orang mengetahui bahasa cinta yang dimiliki oleh orang terdekat seperti suami, istri, anak agar bisa mengekspresikan rasa cintanya kepada orang terdekat sesuai dengan yang mereka ekspektasikan tanpa perlu menerka-nerka.

“5 bahasa cinta yakni kata-kata penegasan, waktu yang berkualitas, mendapatkan hadiah, tindakan melayani serta sentuhan fisik,” tuturnya.

Bahasa cinta yang pertama yakni kata-kata penegasan (word of affirmation). Biasanya orang yang memiliki bahasa cinta ini, umumnya perlu mendengar pasangannya berkata “Aku cinta kamu”.

Bahasa cinta yang kedua yakni Waktu yang Berkualitas (Quality Time). Bahasa cinta yang satu ini adalah tentang cara memberi pasangan sebuah perhatian secara penuh, artinya perhatian diberikan tidak boleh terganggu oleh urusan lain, misalnya gadget, pekerjaan, atau urusan dengan teman-teman.

“Di sini harus memberi perhatian penuh untuk pasangan. Serta menghabiskan waktu bersama tanpa adanya gangguan,” ujarnya.

Bahasa cinta yang ketiga, mendapatkan hadiah. Orang-orang yang memiliki bahasa cinta ini biasanya lebih senang diperhatikan dengan cara diberi hadiah. Orang-orang tersebut lebih cenderung membutuhkan tindakan nyata dan bukti dibandingkan dengan kata-kata saja.

Selanjutnya, bahasa cinta keempat tindakan melayani. Bahasa cinta yang satu ini mencakup apa saja untuk meringankan beban tanggung jawab pasangan.

Misalnya mengirimkan makan siang kepada pasangan, pergi berbelanja kebutuhan pasangan, membantu pasangan menyelesaikan pekerjaannya, dan lainnya.

“Serta bahasa cinta yang terakhir, yakni sentuhan fisik. Orang-orang yang memiliki bahasa cinta ini biasanya akan cenderung menyukai sentuhan fisik. Seperti halnya, genggaman tangan, pelukan, elus-elus kepala, dan lainnya,” katanya.

Ketua DWP Sekretariat Daerah Kota Kediri Nisa Ferry Djatmiko juga memberikan pesan dalam rumah tangga pasti ada cinta. Cinta itu adalah sebuah pemberian dari Tuhan. Untuk itu, cinta harus dipelihara diantara istri dan suami, ibu dan anak, ayah dan anak. Jadi keluarga itu adalah sebuah satu kesatuan.

“Cinta itu dipelihara dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Cinta kepada Tuhan itu yang akan menguatkan kita semua. Dengan kemungkinan terjelek yang akan terjadi sekalipun yang menguatkan itu tetap Yang Maha Pemberi Segalanya yaitu Allah SWT,” katanya.

Dapatkan update berita menarik lainnya hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di Google News.