JURNALJATIM.COM – Ulama besar KH. Maimun Zubair atau Mbah Moen telah pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya. Mbah Moen wafat di Makkah, Saudi Arabiyah, pada Selasa (6/5/2019) usai Salat Subuh waktu setempat atau sekitar jam 7.18 WIB.
Kepergian ulama NU tersebut cukup mengagetkan seluruh masyarakat Indonesia, tak terkecuali saya. Awalnya, kabar meninggalnya Mbah Moen beredar melalui pesan di sejumlah grup aplikasi WhatsApp. Saya tidak langsung percaya dengan kabar itu, bahwa, informasi itu beberapa kali saya tanyakan kepada pengiring di grup WA.
Sejumlah, teman-teman saya, kiai dan Gus (Putra Kiai) langsung saya kirim pesan untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Tak lama kemudian, pesan masuk ke ponsel saya, yang memastikan bahwa Mbah Moen telah berpulang menghadap Allah SWT.
Jujur saja, seketika itu dengan sendirnya air mata saya menetes. Saya memang tidak kenal dekat dengan Mbah Maimun Zubair. Begitupun sebaliknya, Mbah Moen malah tidak mengenal saya. Karena, saya bukan santri di pondok pimpinan Mbah Maimoen.
Tetapi, beberapa kali, saya sowan ke dalem kasepuhan beliau, yang berada di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa tengah. Mbah Moen, merupakan sosok alim dan guru bagi saya pribadi. Mbah Moen, selalu sederhana dan tidak pernah membeda-bedakan.
Sewaktu itu, saya juga pernah bersama pengasuh Ponpes Al-Aziziyyah Denanyar, Jombang, Almarhum KH. Aziz Masyhuri, dan putranya KH. Agus Abdul Muiz Aziz sowan ke Mbah Moen. Itu menjadi momentum terpenting bagi saya pribadi.
Secara sekilas, saya mengetahui sosok Mbah Moen adalah seorang Kiai yang kharismatik. Beliau (Mbah Moen) tidak pernah membeda-bedakan orang. Para tamu yang bersilaturrahmi ke kediamannya tidak pernah sepi.
Meski terkadang kondisi fisiknya yang kurang baik, Mbah Moen tetap menemui para tamunya secara bersamaan di ruang tamu kediamannya.
Apakah itu pejabat, Kiai, dan warga sekitar yang datang bersilaturrahmi, beliau temui secara bersamaan dalam satu tempat. “Tamu itu orang bersilaturrahmi dan wajib dihormati dan ditemui,” tutur Mbah Moen kala itu sembari bercanda dengan para tamunya.
Dengan ciri khas yang saya ketahui saat itu, ketika menemui tamu, Mbah Moen yang duduk di kursi ruang tamunya, beberapa kali menjelaskan sesuatu tentang ilmu fikih. Beberapa menit kemudian berhenti beristirahat lalu menjelaskan kembali materinya. Gaya penyampaiannya pun tidak seperti serius dan selalu memberikan contoh dengan hal yang mudah di mengerti.
Mbah Maimoen merupakan seorang alim, faqih sekaligus muharrik atau penggerak. Selama ini ulama kelahiran 28 Oktober 1928 ini menjadi rujukan banyak ulama Indonesia dalam bidang fikih. Hal itu lantaran Kiai Maimun menguasai secara mendalam ilmu fikih dan ushul fiqih. (Zainul Arifin)