Diserbu Warga, Harga Cabai Anjlok 50 Persen di Pasar Murah Kediri

Kediri, Jurnal Jatim – Pasar murah yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur di halaman kantor Kelurahan Pare, Kediri diserbut warga. Pasar murah ini menjadi perhatian masyarakat karena menawarkan harga kebutuhan pokok jauh di bawah pasaran, Minggu (1/3/2026).

Komoditas yang dijual antara lain beras medium SPHP dan premium, minyak goreng, gula pasir, telur ayam ras, daging ayam, hingga cabai rawit yang sebelumnya mengalami lonjakan harga signifikan.

Berdasarkan data, beras medium SPHP dijual Rp55.000 per kemasan 5 kilogram atau sekitar Rp11.000 per kilogram. Beras premium Rp70.000 per kemasan, lebih rendah dibanding harga pasar Rp74.500. Minyak goreng dibanderol Rp13.000 per liter dari harga pasar sekitar Rp16.800.

Perbedaan harga paling mencolok terjadi pada cabai rawit. Jika di pasar tradisional harganya menembus Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram, di pasar murah warga dapat membelinya seharga Rp40.000 per kilogram. Namun, pembelian dibatasi guna menjaga pemerataan distribusi.

Kemudian daging ayam ras dijual Rp30.000 per kilogram dari harga pasar sekitar Rp42.000. Telur ayam ras dibanderol Rp22.000 per kilogram, sedangkan gula pasir dijual Rp14.000 per kilogram.

Wakil Pemimpin Cabang Bulog Kediri, Hestiana Peni Utami, mengatakan pihaknya menyiapkan 5 ton beras medium SPHP, 500 kilogram beras premium, serta 10 karton minyak goreng dalam kegiatan itu. Tingginya antusiasme warga menunjukkan kebutuhan intervensi harga menjelang hari besar keagamaan memang diperlukan.

“Momentum ini tepat karena permintaan pasar meningkat. Kami pastikan stok cukup dan harga lebih terjangkau karena sudah disubsidi,” katanya.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang hadir meninjau, menegaskan bahwa pasar murah merupakan bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah sekaligus menjaga ketahanan pangan sepanjang 2026.

“Penjangkauan pasar murah ini adalah upaya pengendalian inflasi sekaligus stabilisasi harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.

Selain pasar murah stasioner, Pemprov Jatim juga meluncurkan Mobil EPIK (Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota) bekerja sama dengan Bank Indonesia. Program ini dirancang untuk menjangkau wilayah yang lebih luas melalui distribusi bahan pokok secara keliling.

Khofifah menegaskan, langkah itu bukan untuk menyaingi pedagang pasar tradisional, melainkan sebagai penyeimbang ketika harga melonjak tajam. Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok pangan dipastikan aman hingga Idulfitri. (*)

Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com