Kediri, Jurnal Jatim – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kediri menggelar agenda Ngopi Nda (Ngomongke Inpo Terkini dengan Media), Senin (15/12/2025). Dalam acara itu, BI memaparkan perkembangan ekonomi global, nasional, Jawa Timur, serta wilayah kerja BI Kediri, termasuk risiko dan peluang yang dihadapi ke depan.
Kepala KPw BI Kediri, Yayat Cadarajat, menyampaikan bahwa ketidakpastian global masih menjadi tantangan, khususnya terkait dinamika perdagangan internasional. Salah satu isu yang berkembang adalah potensi perubahan tarif perdagangan Amerika Serikat terhadap Indonesia.
“Tarif yang sempat turun dari 32 persen ke 19 persen masih berisiko berubah kembali. Saat ini kami masih menunggu kepastian informasi lanjutan,” ujar Yayat.
Meski demikian, Yayat menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat tetap berada di atas 5 persen, dan Bank Indonesia meyakini kinerja tersebut dapat dipertahankan sepanjang 2025.
Dari sisi inflasi, kondisi nasional dinilai masih terkendali. Inflasi berada di kisaran 2,5 persen ±1 persen, sesuai target Bank Indonesia. Jawa Timur mencatat inflasi sekitar 2,36 persen, yang masih relatif stabil meski terdapat tekanan dari komoditas pangan seperti cabai, bawang, dan beras, serta faktor cuaca dan bencana alam di sejumlah wilayah sentra produksi.
“Tekanan inflasi memang ada, tetapi kami memperkirakan tidak akan meningkat signifikan,” kata Yayat.
Untuk tingkat regional, Yayat menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur masih berada di atas rata-rata nasional. Pada triwulan III 2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,22 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 5,04 persen. Jawa Timur juga menjadi kontributor besar terhadap perekonomian nasional dengan sumbangan sekitar 14,5 persen, terbesar kedua setelah DKI Jakarta.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya investasi, khususnya di sektor industri pengolahan, makanan dan minuman, serta sektor akomodasi dan makan minum. Investasi di Jawa Timur tercatat tumbuh sekitar 7 persen, menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun, dari sisi intermediasi perbankan, pertumbuhan kredit masih relatif terbatas. Hingga triwulan III 2025, kredit di Jawa Timur tumbuh sekitar 3,19 persen. Perlambatan ini dipengaruhi oleh berakhirnya program restrukturisasi kredit pascapandemi, yang berdampak pada peningkatan risiko kredit bermasalah dan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan pembiayaan.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh dua sisi, yakni permintaan kredit yang masih tertahan serta pengetatan dari sisi perbankan,” jelas Yayat.
Sementara itu, di wilayah kerja BI Kediri, pertumbuhan ekonomi masih berada di bawah rata-rata Jawa Timur. Pada semester I 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 4,3 persen. Kota Kediri menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan terendah, yang antara lain dipengaruhi oleh belum optimalnya kinerja industri pengolahan tembakau.
Meski demikian, hasil survei Bank Indonesia menunjukkan optimisme konsumen dan dunia usaha terhadap kondisi ekonomi ke depan. Indeks Keyakinan Konsumen masih berada pada level optimistis, terutama untuk proyeksi 2026.
Yayat menekankan pentingnya menjaga optimisme sebagai faktor pendorong pertumbuhan ekonomi. “Optimisme konsumen dan pelaku usaha sangat berperan dalam mendorong konsumsi, investasi, dan ekspansi usaha,” ujarnya.
Ke depan, BI Kediri akan terus mendorong penguatan investasi daerah, peningkatan nilai tambah sektor pertanian dan peternakan, optimalisasi kredit investasi, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com






