oleh

Kesabaran Nenek Muryati, Puluhan Tahun Merawat Putranya yang Lumpuh di Nganjuk

Nganjuk, Jurnal Jatim Perjuangan yang tidak mudah harus dilakukan oleh Nenek Muryati, seorang ibu yang tinggal di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Sehari-hari Muryati yang bekerja sebagai buruh cuci tak bisa pergi lama-lama lantaran harus merawat putranya bernama Agus Pujianto (39) yang hanya bisa berbaring karena mengalami kelumpuhan.

Selama puluhan tahun, Muryati dengan sabar, telaten merawat putra kesayangannya seorang diri, karena sang suami yang sudah tiada.

Di rumah tak layak huni, perempuan berusia 64 tahun itu menceritakan kondisi anaknya kepada sejumlah wartawan yang datang menyambanginya, Sabtu (7/5/2022).

Muryati menuturkan, awalnya Agus Pujianto hidup normal seperti anak seusianya. Menginjak usia 13 tahun, ketika kelas 6 SD (sekolah dasar), mulai muncul gejala aneh pada anaknya. Agus saat itu berjalan tidak normal.

Lantas, Muryati memeriksakan anaknya ke puskesmas dan rumah sakit. Kala itu, dokter mendiagnosa gejala flu tulang. Agus pun harus menjalani perawatan lebih dari satu bulan di rumah sakit.

“Anak saya sakit bermula masih SD kelas 6. Awalnya masih gejala flu tulang dan pernah dirawat di rumah sakit sekitar 2 bulan lamanya,” tutur Muryati tanpa menyebut rumah sakit yang sempat merawat anaknya.

Dua bulan dalam perawatan di rumah sakit, ternyata tidak ada perubahan pada Agus. Muryati akhirnya memutuskan membawa anaknya pulang dan dirawat di rumahnya.

“Karena tidak ada perubahan dan juga tidak kunjung sembuh hingga akhirnya diputuskan untuk dibawa pulang dan dirawat di rumah sampai sekarang ini,” tuturnya.

Seiring waktu berjalan dan tidak mendapat pengobatan, setahun terakhir kondisi Agus memprihatinkan. Kesehatannya memburuk. Badannya kurus, lutut kakinya tidak bisa digerakkan dan tertekuk.

Jika sebelumya Agus masih bisa duduk dan bergeser, kini hanya terbaring di atas tempat tidur. Semua aktivitasnya harus dibantu, mulai dari makan, minum hingga buang air besar.

“Terakhir berobat kurang lebih sudah ada lima tahun yang lalu,” ujar Muryati yang dua puluh tahun lebih merawat anaknya itu.

Nenek Muryati tak pernah patah semangat dalam merawat putra semata wayangnya itu. Ia sangat menaruh harapan besar putranya bisa segera sembuh dan dapat beraktivitas normal pada umumnya.

“Harapan saya semoga ada perhatian khusus dari pemerintah dan anak saya segera sembuh seperti biasanya, bisa beraktivitas seperti layaknya orang lain,” tutur Muryati.

Pada masa pandemi COVID-19, Muryati menambahkan anaknya juga sudah dua kali disuntik. Harapannya agar tidak terinfeksi virus corona yang mematikan. “Anak saya juga sudah divaksinasi hingga 2 kali vaksin,” imbuhnya.

Muryati mengucapkan terima kasih kepada wartawan dari Aliansi Wartawan Nganjuk (AWN) yang telah datang dan memberikan bantuan kepada dirinya. Muryati pun mendoakan kebaikan itu dibalas Allah SWT.

“Terima kasih telah peduli untuk membatu keluarga kami. Semoga diberikan kelancaran dalam menjalankan tugas,” tuturnya.

Ketua AWN, Puguh Santoso mengatakan ia bersama rekan-rekannya terharu melihat kondisi keluarga Muryati yang hidupnya jauh dari kecukupan. Ditambah harus merawat sang anak yang sakit lumpuh.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, AWN memberikan bantuan paket sembako berupa beras dan bingkisan serta santunan uang kepada keluarga Muryati. Bantuan itu setidaknya dapat meringankan kebutuhan ekonominya.

“Kami ingin ikut meringankan beban masyarakat yang kurang mampu, sebisanya, semampunya. Dan janganlah dilihat dari nilainya, tetapi niatannya. Saya berharap dengan bantuan sedikit dari AWN, maka Bu Muryati bisa terbantu,” ujarnya.

Dalam kehidupan kurang mampu, memang keluarga Muryati tak jarang mendapatkan bantuan dari pemerintah desa maupun dari orang lain. Bahkan, Muryati akan mendapat bantuan bedah rumah dari pemerintah desa setempat. Sebab, rumah yang ditempati oleh Muryati sudah lapuk dimakan usia.

“Rumah Bu Muryati yang diprioritaskan, hanya menunggu giliran saja, sudah masuk program bedah rumah, dan nanti kita akan gotong royong untuk membantu, mengingat keluarga Bu Muryati tidak memiliki keluarga lain, hanya dirinya dan anaknya yang sakit,” ujar Kepala Desa Tanjungrejo, Patoni ditemui wartawan di rumahnya.

Dapatkan update berita menarik lainnya hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news dan akun instagram Jurnaljatim.com.