JOMBANG (Jurnaljatim.com) – Edi Susanto, anak berusia 25 tahun, warga Dusun Gitri, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa timur menderita lumpuh sejak ia lahir usia 2 tahun hingga saat ini. Edi merupakan anak pertama dari 2 bersaudara.
Ia lahir pada 1994, dari pasangan suami istri Ngarman (49) dan Suarmi.
Selama 23 tahun berlalu, Edi Susanto tidak bisa beraktivitas apa-apa.
Ia hanya bisa terbaring dan duduk di rumahnya. Untuk buang air besar dan kecil, Edi harus digotong orang tuanya. Begitu pula saat ia hendak mandi dan membersihkan tubuhnya.
“Anak saya ini mulai lumpuh sejak usia 2 tahun. Edi adalah anak pertama kami,” ujar Ayah Edi, Ngarman, saat ditemui Jurnaljatim.com di rumahnya, yang berada di sekitar hutan desa setempat.
Suarmi, ibu dari Edi menceritakan, awalnya tidak ada tanda-tanda anak pertamanya akan mengalami kelumpuhan. Pada bulan September 2019 lalu, anaknya lahir dalam kondisi normal dengan berat badan 3,1 kilogram.
“Ya pas lahiran lancar dan normal. Saat itu tidak ada tanda kelumpuhan. Bayi lahir dengan sehat,” ujar Suarmi sembari membopong anaknya didampingi suaminya.
Menginjak usia dua tahun, Edi mengalami sakit demam dan panas. Saat itu, Suarmi mengira anaknya sakit biasa lalu di periksakan ke Puskesmas setempat. Namun, suhu badan anak tidak menurun dan panas semakin tinggi.
“Saya periksakan lagi, petugas medis bilang anak saya mengalami keroposan tulang di bagian kaki,” tuturnya.
Dari situ, ia terus berusaha mencari pengobatan anaknya. Edi juga pernah dirujuk ke RSUD Jombang dengan menggunakan kartu sehat, Namun, belum bisa menyembuhkannya. Hingga usia remaja, tubuh Edi tak bisa tumbuh berkembang seperti anak lainnya.
“Sudah berobat kemana-mana dan pakai kartu sehat tapi belum berhasil. Saya pingin sekali anak saya sehat seperti lainnya,” ucap lirih Suarmi sembari matanya berkaca-kaca.
Mirisnya, Pasutri yang tinggal dalam rumah sangat sederhana belum bisa membelikan anaknya kursi roda yang menjadi kebutuhan. Padahal, anaknya sejak 15 tahun terakhir ingin sekali memiliki kursi roda. Sehari-hari Edi hanya duduk klesetan dan tiduran di ruang tamu rumahnya.
“Kami sangat bersyukur, tadi Pak Mukid Kasat Narkoba Polres Jombang datang kesini memberikan kursi roda untuk anak saya. Semoga Allah membalas amal kebaikan beliau,” tukas Ngarman.
Saat ini, Ngarman yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani ini hanya bisa pasrah atas cobaan derita yang dialami anaknya. Yang jelas, dengan penuh keterbatasan ekonomi, ia bersama istrinya akan terus merawat Edi dan membesarkan adiknya yang kini duduk di bangku SLTA.
Editor: Azriel