Tuban, Jurnal Jatim – Ketua Komisi I DPRD Tuban, Fahmi Fikroni meminta Bupati Aditya Halindra Faridzky minta maaf kepada mahasiswa pascademo ricuh pada Rabu (16/8/2023) lalu.
Demo para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tuban berakhirnya ricuh dengan aparat keamanan di depan gedung wakil rakyat.
Dewan menilai salah satu pemicu bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan karena bupati tak kunjung menemui mahasiswa.
“Kami juga menuntut kepada Bupati Tuban untuk meminta maaf kepada semua pihak terutama kepada PMII karena bupati juga merupakan salah satu pemicunya yang tidak pernah mau menemui para pendemo,” kata Roni, Sabtu (19/8/2023)..
Roni berharap kepada aktivis PMII untuk terus kritis dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat. Jangan sampai isu-isu untuk mengkritisi kebijakan pemerintah dan memberikan rapor merah atas kinerja bupati Tuban berbelok arah.
“Isunya harus tetap untuk mengawal kebijakan bupati, jangan mau dibelokkan,” terang politisi senior asal PKB ini.
Selain itu, dirinya juga sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan Kapolres Tuban AKBP Suryono dalam mengamankan aksi mahasiswa. Termasuk menyelesaikan persoalan pasca adanya insiden demo ricuh antara mahasiswa dengan aparat keamanan.
“Kapolres Tuban sudah memberikan tindakan tegas kepada anggota yang terbukti bersalah dalam pengamanan aksi mahasiswa,” tambah pria yang akrab disapa Gus Roni ini.
Wakil rakyat itu menyebut salah satu tindakan tegas yang dilakukan Kapolres Tuban berupa sanksi tegas kepada IPDA Kiswoyo Supriyanto dengan mencopot jabatannya sebagai Kanit Jatanras Satreskrim Polres Tuban.
Dimana, anggota tersebut diduga melakukan kekerasan terhadap mahasiswa saat mengamankan aksi demo.
“Kapolres Tuban telah mencopot jabatan Kanit Jatanras dan melakukan upaya bertabayun (mencari tahu atau memverifikasi) dengan sahabat-sahabat IKA PMII serta aktivis PMII yang lain,” ujar mantan Manager Persatu Tuban ini.
Menurutnya, DPRD Tuban dengan tegas meminta mengusut tuntas pemicu terjadinya kekerasan terhadap mahasiswa saat demo kemarin.
Sebab, dalam rekaman video tampak terlihat dugaan pemicunya adalah sebuah mobil Innova plat merah yang keluar dari gedung dewan pada saat bersamaan adanya aksi mahasiswa.
“Mobil Innova plat merah yang dengan sengaja keluar tanpa mau membuka kaca sehingga adik-adik PMII berupaya untuk menghentikan dengan cara terlentang di depan mobil,” kata politisi asal Jenu Tuban.
Lebih lanjut ia berharap hubungan antara Polres dan PMII yang selama ini sangat harmonis tetap berjalan dengan baik.
“Jangan sampai kedepan tercederai oleh oknum-oknum lagi,” harap anggota DPRD dua periode itu.
Sebatas diketahui, puluhan mahasiswa dari PMII Tuban menggelar aksi demo di depan kantor Pemkab dan DPRD Tuban, Rabu (16/8/2023).
Mereka menyampaikan aspirasi berupa kritik dan ketidakpuasan atas kinerja Bupati Aditya Halindra Faridzky dalam menangani masalah kemiskinan, stunting, pendidikan, dan lainnya.
Tak hanya itu, aktivis mahasiswa itu juga membawa baliho berwarna merah terdapat gambar foto bupati dengan mata diblok hitam sambil diberi tulisan “Raport merah bupati Tuban”.
Lalu kericuhan antara mahasiswa dengan aparat kepolisian terjadi di pintu keluar kantor DPRD Tuban lantaran bupati tidak menemui mahasiswa.
Kericuhan demo mahasiswa tak bisa dihindarkan, dan anggota kepolisian diduga melakukan kekerasan terhadap sejumlah kader PMII Tuban.
Akibatnya, tiga mahasiswa demonstrasi mengalami luka-luka lantaran diduga dipukul hingga diseret anggota kepolisian.
Termasuk, satu kader perempuan diduga menjadi korban pelecehan seksual dalam peristiwa tersebut. Hingga situasi terkendali, bupati masih enggan menemui mahasiswa.
Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, Jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com.