oleh

Plt Bupati Marhaen: 2.763 Orang di Nganjuk Terkena Gangguan Jiwa

Nganjuk, Jurnal Jatim –Angka kasus Orang terkena gangguan jiwa di Nganjuk, Jawa Timur cukup tinggi. Jumlahnya saat ini tercatat sebanyak 2.763 orang yang tersebar di 20 Kecamatan di kabupaten tersebut.

Tingginya kasus orang terkena gangguan jiwa itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Nganjuk mengadakan rapat koordinasi dan sosialisasi pembentukan posyandu kesehatan jiwa di aula balai latihan kerja (BLK) Nganjuk, Rabu (23/03/2022).

Tujuan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan jiwa, pengetahuan dan pemahaman serta kesadaran dan berupaya untuk mencegah gangguan kejiwaan sejak dini.

Penderita ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) tidak hanya orang gila yaitu penderita berat, tetapi juga orang yang dalam tekanan, stres, dan berperilaku tidak sesuai dengan kebiasan lainnya.

ODGJ di Nganjuk sebagian besar termasuk dalam usia produktif yang membutuhkan kemudahan akses untuk menjadi produktif.

“Kurang lebih ada 2.763 orang di Nganjuk dengan kondisi terkena gangguan jiwa,” kata Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi saat menghadiri sosialisasi tersebut.

Marhaen menjelaskan jumlah per kecamatan ODGJ di Kabupaten Nganjuk yang di dominasi usia produktif. Rinciannya 189 orang di Bagor, 46 orang di Baron, 181 orang di Berbek dan 150 orang di Gondang.

Kemudian di Jatikalen 54 orang, Lengkong 31 orang, Loceret 59 orang, Ngetos 78 orang, Ngluyu 59 orang, Ngronggot 172 orang, Pace 141 orang, Patianrowo 60 orang, Rejoso 135 orang, Sawahan 62 orang, Wilangan 89 orang, dan Kecamatan Sukomoro 193 orang.

“ODGJ yang paling banyak di Kecamatan Prambon dengan jumlah 418 orang selanjutnya Kertosono sebanyak 223 orang, Tanjunganom 215 orang dan Nganjuk sebanyak 208 orang,” Kata Marhaen merinci.

Menurut Marhaen, masalah ODGJ tersebut akan menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah untuk mencari solusinya, karena sehat itu penting dan utama.

“Ini jadi PR kita bersama dan pemerintah harus ikut terjun. Kita tidak perlu malu yang paling penting bagaimana solusinya dengan memastikan bahwa masyarakat memiliki BPJS, tempat penanganan pasien yang layak, stok obat harus ada, memastikan pangannya yang aman, serta pemeriksaan pasien dengan keterangan sakitnya karena apa dan ada keluarga yang dekat,” katanya.

Plt kepala Dinas Kesehatan dr. Laksomono Pratignjo, menambahkan dengan jumlah pasien ODGJ yang semakin meningkat, maka perlu adanya posyandu Kesehatan jiwa. Ia meminta jangan sampai ada pasien yang dipasung, karena pasien butuh bersosialisasi dengan keluarga.

“Orang sakit jiwa itu sulit ditangani, maka pasien harus rutin mengonsumsi obat sedangkan permasalahan obat, jika tidak minum obat pasien pasti kambuh sedangkan masalah obat yang ada di provinsi sering kali kosong. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu adanya kegiatan rapat koordinasi untuk mencari solusi yang tepat,” ujarnya.

Dapatkan update berita menarik lainnya hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di Google News.