Tuban, Jurnal Jatim – Memang sangat mengejutkan saat ratusan warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawatimur mendadak kaya raya usai jual tanah ke Pertamina untuk proyek pembangunan kilang minyak New Grass Root Refinery (NGRR) yang bekerja sama dengan perusahaan Rusia, Rosneft.
Rata-rata, warga mendapatkan uang Rp8 miliar. Bahkan, ada satu petani yang mengantongi uang lebih Rp26 miliar. Tak heran jika Desa itu dijuluki sebagai kampung miliarder.
Berikut 10 hal mengejutkan di kampung miliarder itu, mulai dari borong mobil mewah hingga warga tolak proyek kilang minyak, Sabtu, (20/2/2021).
1. Warga Borong Ratusan Mobil mewah
Usai menerima uang dari PT Pertamina, warga menggunakan untuk membeli sejumlah mobil mewah dengan harga ratusan juta. Mobil baru paling banyak dipesan kelas menengah keatas seperti Innova dan Fortuner.
Bahkan, aksi borong kendaraan roda empat itu sempat viral di media sosial (medsos) karena beberapa mobil mewah datang secara bersamaan sambil dikawal mobil patroli pengawalan (Patwal) polisi.
Kepala Desa Sumurgeneng, Gihanto menjelaskan, di desanya tercatat ada 176 mobil baru yang dibeli warga sejak mereka menerima uang ganti rugi lahan kilang minyak. Dimana, satu warga ada yang membeli 2 sampai 3 mobil dengan menggunakan uang tersebut.
“Ada sekitar 176 mobil baru yang dibeli warga, itu belum yang mobil bekas. Warga membeli dengan menggunakan uang dari pembebasan lahan proyek kilang. Satu orang ada yang beli dua sampai tiga mobil,” kata Gihanto, Senin, (15/2/2021) lalu.
2. Beli Mobil Dulu Baru Belajar Mengemudi
Pada umumnya masyarakat membeli mobil setelah bisa mengemudi setir bundarnya. Namun hal itu tidak berlaku bagi masyarakat di kampung miliarder. Sebaliknya, memilih beli mobil mewah dulu Setelah itu belajar mengemudi.
“Saya beli mobil dulu baru belajar, sekarang sudah bisa sedikit-sedikit. Tapi belum berani jalan ke kota, di desa dulu,” kata Matrawi, penerima uang Rp3 miliar dari penjualan setengah hektare tanah miliknya.
Ia mengatakan, uang Rp3 miliar itu dia gunakan untuk membeli satu Toyota Rush, satu mobil pikap, sisanya ditabung.
Senada dinugkapkam tetangganya, yakni Wantono (40). Awalnya juga belum tahu apapun soal menyetir mobil. Tetapi dia nekat beli mobil Mitsubishi Expander setelah terima Rp24 miliar dari menjual tanah seluas 4,2 hektar.
“Baru pertama ini saya punya mobil, setelah beli saya belajar mengemudi. Sekarang sudah mulai bisa mengemudi,” ucapnya.
3. Setia Bertani Meski Jadi Miliarder
Kesetiaan warga Sumurgeneng dalam bertani masih melekat sampai saat ini meskipun mereka kini menjadi miliarder setelah menerima uang dari Pertamina. Terbukti, mereka masih menyisihkan uang untuk kembali membeli lahan yang digunakan untuk bertani.
“Mereka yang terima uang dari menjual lahannya untuk kilang masih bertani, dan warga juga kembali membeli lahan meskipun tidak di desa sini,” kata Kades Sumurgeneng, Gihanto.
4. Beli Tanah Rp 20 Juta Laku 4,5 Miliar
Priyanto, (30) seperti kejatuhan buah durian. Karena memperoleh rezeki yang tak disangka sebelumnya. Keluarganya mendapat Rp 4,5 miliar setelah tanahnya di jual. Padahal, dulu Priyanto membeli sebidang tanah itu seharga Rp20 juta di tahun 2004 silam.
“Senang, tanah saya dapat sekitar Rp 4,5 miliar, dulu seingat saya beli Rp 20 juta,” ungkapnya.
5. Harga Lahan Tertinggi di Kampung Miliarder Sebesar Rp 28 Miliar
Di Desa Sumurgeneng itu ada sekitar 280 warga atau pemilik lahan terdampak proyek pembangunan kilang minyak. Semua warga yang terdampak telah setuju menjual lahannya ke Pertamina untuk pembangunan proyek nasional.
“Semua warga Sumurgeneng telah setuju lahannya dijual untuk pembangunan kilang minyak,” jelas Gihanto.
Harga ganti rugi lahan milik warga dibanderol dengan rata-rata berkisar Rp600.000 – Rp800.000 per meter persegi. Penentuan nilai harga lahan milik warga itu telah diputuskan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) setalah melakukan penghitungan harga melalui appraisal.
“Paling banyak sekitar Rp28 miliar, itu orang Surabaya yang sudah lama memiliki lahan di sini,” katanya.
6. 90 Persen Warga Kampung Miliarder Beli Mobil
Gihanto menerangkan 90 persen warga yang mendapatkan uang ganti rugi lahan untuk proyek kilang minyak digunakan untuk membeli mobil. Kemudian sekitar 75 persen itu dibelikan tanah lagi dan 50 persen digunakan renovasi rumahnya.
“Kalau untuk usaha sangat kecil atau minim. Rata-rata mereka (warga) ingin menikmati dulu,” jelasnya.
Hal sama disampaikan Mulyadi salah satu warga mengaku, teman-teman telah mengambil atau menerima uang ganti rugi lahan untuk proyek kilang minyak yang sebagian uangnya digunakan untuk membeli mobil baru maupun bekas.
“Ya, banyak yang beli mobil,” nya.
7. Warga Kampung Miliarder Pilih Simpan Uang di Bank
Kegembiraan wajah para miliarder di Desa Sumurgeneng diwujudkan dengan membeli sejumlah mobil mewah, tanah, dan perbaikan rumah. Tak hanya itu, sisa uangnya di deposito atau di simpan dalam rekening di sebuah bank.
“Tidak semuanya di BNI, sebagian lagi di beberapa Bank Himbara lainnya, namun memang BNI cukup dominan,” ungkap Eri Prihartono, Pemimpin BNI Cabang Tuban, Jumat, (19/2/2021).
8. 27 Orang Dicoret Sebagai Penerima Bansos Warga Miskin
Berdasar data, sebanyak 27 orang di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu dicoret sebagai warga miskin. Pasalnya, mereka telah menjadi miliarder. Bahkan, saat ini 27 warga telah memiliki rumah mewah dan mobil baru seharga ratusan juta.
“Ada 27 keluarga penerima manfaat (KPM) yang dikeluarkan dari penerimaan bantuan pangan non tunai (BPNT) karena sudah menerima uang pembebasan lahan,” kata Pendamping Bantuan Sosial Pangan (BSP) atau Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Jenu, Imron, Kamis, (18/2/2021).
Di Desa Sumurgeneng itu ada 288 KPM dari BPNT. Setelah dilakukan verifikasi dan turun ke lapangan, ditemukan 27 KPM yang dianggap sudah mampu usai mendapatkan uang ganti rugi lahan.
Selanjutnya, meraka dicoret sebagai penerima bantuan BPNT melalui aplikasi Sistem Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG).
9. Warga Sumurgeneng Sempat Menolak Proyek Kilang Minyak
Sejumlah warga Sumurgeneng, Jenu sebelumnya menolak terkait lahannya di beli untuk proyek kilang minyak. Mereka menolak dengan berdalih lahan tersebut subur untuk pertanian.
Bahkan, penolakan diwujudkan dengan aksi demo turun jalan hingga menemui Bupati Tuban dan wakil rakyat. Setelah melalui proses, warga pun sepakat atau merelakan lahannya dibeli.
“Semua warga menerima, termasuk warga juga telah mengambil uang ganti rugi lahan melalui proses konsinyasi di Pengadilan Negeri Tuban,” ucap Gihanto.
3 Desa Kena Pembebasan Lahan Proyek Kilang Minyak
Proyek pembangunan kilang minyak di Kecamatan Jenu itu menelan dana USD 15 miliar hingga USD 16 miliar atau sekitar Rp 225 triliun (asumsi kurs Rp 14.084, red). Proyek itu menempati area seluas kurang lebih 900 hektar.
Dari luas lahan itu, jumlah lahan warga terdampak untuk proyek kilang minyak itu ada 529 bidang berada di tiga desa di Kecamatan Jenu. Yakni Desa Wadung, Kaliuntu, dan Sumurgeneng.
Lalu Kilang Tuban itu juga merupakan salah satu kilang tercanggih di dunia yang memiliki kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu barel per hari yang akan menghasilkan 30 juta liter BBM per hari untuk jenis gasoline dan diesel.
Editor: Hafid