oleh

Polisi Bongkar Jaringan Narkoba di Jombang, 8 Orang Diringkus

Jombang, Jurnal Jatim – Satuan Reserse Narkoba Polres Jombang kembali membongkar jaringan narkoba jenis sabu-sabu di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. 8 orang pelaku berhasil ditangkap.

Kedelapan pelaku ditangkap di tempat berbeda dalam kurun waktu tidak sampai satu hari. Total barang bukti yang diamankan hampir 10 gram sabu. Selain itu, polisi juga menyita sejumlah ponsel, alat isap dan uang tunai.

Mereka tertangkap ketika dipancing petugas yang menyamar sebagai pembeli. Kemudian salah satu polisi melakukan undercover transaksi dengan salah satu pengedar di wilayah Kecamatan Jombang.

Pada saat dilakukan undercover, petugas mengamankan pemuda bernama Eko Dwi Agus Saputro alias Kodok (29) warga Tambakrejo, Jombang yang sebelumnya sudah menjadi target operasi (TO). Dari situ, kemudian terbongkar jaringan diatasnya.

Kasatresnarkoba Polres Jombang, AKP Mochamad Mukid ketika dikonfirmasi Jurnaljatim.com mengungkapkan, para pelaku yang diringkus telah ditetapkan sebagai tersangka pengedar sekaligus pengguna narkotika sabu-sabu.

Para tersangka itu terbagi dalam dua jaringan kelompok. Kodok (29); Imam Rofiudin alias Sadak (41) dan Moh Fatoni alias Londo (36) merupakan jaringan kelompok Mujianto alias Meteng (31).

Kemudian tersangka Ach Rifai alias Mein (47) warga Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang memiliki jaringan kelompok Andik Porwanto (39); Ravi Adi Cahyono (26) dan Sukirman alias Kirman (39).

“Kedua jaringan kelompok itu mendapatkan sabu dari Mojokerto dengan sistem ranjau. Bandarnya kabur saat kita gerebek dirumahnya. Sudah kita tetapkan DPO, inisialnya JP dan BB,” jelas Mukid, Jumat (15/1/2021).

Dihadapan penyidik kepolisian, mereka beralasan melakoni bisnis barang terlarang itu karena faktor ekonomi. Penghasilan tersangka Meteng sebagai kuli bangunan tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Begitupun juga dengan tersangka Mein yang bekerja sebagai karyawan musim di pabrik gula dianggap masih kurang memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

“Aasannya faktor ekonomi. Beli sabu dengan harga Rp1,1juta dan dijual Rp1,3 juta per gram. Tersangka menjual dalam kemasan paket hemat dengan harga Rp300 ribu per paket,” ujar mantan Kasatresnarkoba Polres Ngawi ini.

Lebih lanjut Mukid menjelaskan, aktivitas dua kelompok penikmat kristal putih tersebut sudah berlangsung selama 4 bulan terakhir di masa pandemi COVID-19. Selain ketagihan, tujuan mereka mengonsumsi sabu untuk bersenang-senang.

“Sejauh ini, keluarga para tersangka tidak tahu kalau mereka menjadi pengedar dan pengguna sabu. Karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi,” imbuh Mukid.

Atas perbuatannya, kedelapan tersangka kini mendekam di sel tahanan. Mereka disangkakan melanggar Undang-Undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Kapolres Jombang, AKBP Agung Setyo Nugroho mengatakan pengungkapan kasus itu merupakan kerja keras anggota Satresnarkoba sesuai perintah Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk memerangi narkoba.

Namun, menurutnya, capaian tersebut tak lepas dari peran masyarakat. Dia menegaskan, ulah para bandar narkoba mesti dihentikan agar bangsa Indonesia tidak rusak karena narkoba.

“Memang tidak mudah, perjuangannya luar biasa. Tetapi, bayangkan jika bandar narkoba tidak diberangus, berapa jumlah generasi yang rusak akibatnya,” ujarnya.

 

 

 

Editor: Azriel