Kopi Bajing Seng yang Dikembangkan Pemuda Sukowidi Magetan, Begini Asal-usulnya

Magetan, Jurnal Jatim – Mengenal asal-usul kopi bajeng Seng yang dikembangkan oleh pemuda Karang Taruna Desa Sukowidi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur setara dengan kopi luwak.

Pemuda pecinta alam lawu tengah di Desa Sukowidi Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan memanfaatkan keberadaan hewan pengerat bajing yang biasanya meresahkan para petani karena menjadi hama tanaman.

Mereka memanfaatkan hewan pengerat itu dengan menghasilkan komoditas kopi yang kini hasil olahannya banyak diminati oleh masyarakat.

Bendahara pemuda pecinta alam Lawu Tengah Suroto mengatakan, keberadaan hewan berekor tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan produk kopi yang berkualitas.

”Keberadaan bajing di sini justru kita manfaatkan menjadi nama brand kopi kita. Kita mempunyai kopi dengan brad bajing seng,” ujarnya mengutip Kominfo Magetan, Kamis (12/1/2023).

Suroto mengatakan, produk kopi bajeng seng sebetulnya tidak disengaja diproduksi. Ia menceritakan mereka awalnya mencari biji kopi yang berasal dari kotoran hewan luwak.

Di desa Sukowidi setiap musim panen kopi pemuda pecinta alam juga mengumpulkan kopi hasil dari kotoran hewan luwak untuk dijadikan kopi luwak.

”Jadi pas nyari kopi luwak, kita banyak mendapati kopi kopi yang juga dimakan oleh hewan bajing, jumlahnya cukup banyak,” ujar dia.

Sebelumnya mereka enggan mengolah kopi yang dimakan bajing sebagai kopi berkualitas seperti kopi luwak. Namun rasa penasaran membuat para pemuda pecinta alam memungut kopi yang dihasilkan dari sisa makan hewan bajing tersebut.

“Jadi pas kita nyari kopi luwak kita juga kumpulkan kopi yang dimakan bajing itu,” ujarnya.

Bedanya kalau kopi luwak itu biasanya biji kopinya mengumpul dan bijinya sudah bersih. Tapi kopi yang dimakan bajing itu biasanya kadang ngumpul kadang terpencar (tercecer).

“Dan di situ pasti ada sisa kulit kopi karena bajing kan yang dimakan itu kulit kopinya. Beda dengan luwak yang dimakan itu bijinya,” katanya.

Dari eksperimen yang dilakukan dengan menyangrai dan menjadikan kopi dari sisa hewan bajing tersebut ternyata rasanya kurang lebih seperti kopi luwak. Sejak saat itu kopi yang dimakan hewan luwak juga dijadikan brand kopi yang mereka buat.

”Akhirnya kita sepakat untuk menjadikan kopi hasil dari hewan bajing ini menjadi kopi bajing seng. Kalau kita nyebut bajing saja rasanya seperti bahasa kasar, akhirnya kita tambahin bajing seng biar kata itu menjadi halus,” ujarnya.

Sejak diperkenalkan setahun lalu mereka kewalahan melayani pesanan kopi bajing seng. Kesulitannya karena kopi jenis bajing seng tidak akan tersedia jika tidak musim panen kopi.

”Untuk harga kopi bajeng sek perkilo kita patok Rp400.000 dibawah harga kopi luwak. Untuk ketersediaan ini sangat terbatas, paling satu kali masa panen sekitar 20 sampai 40 kilogram,” ujarnya.

Ia berharap petani kopi di desanya menjaga kelestarian lingkungan agar produk kopi bajeng seng terus lestari mengingat dibutuhkan keseimbangan alam mengingat hewan bajing juga membutuhkan ekosistem di alam yang sehat.

Dapatkan update berita menarik hanya di Jurnaljatim.com, Jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com.