Tantangan Melestarikan Kebudayaan Batik Bagi Generasi Muda Menghadapi Era Globalisasi

Jurnal JatimBatik merupakan salah satu bentuk kebudayaan Nusantara yang wajib dilestarikan keberadaanya. Kebudayaan kain Batik sendiri sudah ada dari zaman kerajaan, tidak hanya para raja dan ratu saja yang memakai kain tersebut namun pribumi asli nusantara pun juga memakainya.

Kebudayaan Batik sendiri sudah diakui sebagai kebudayaan yang mendunia,dikutip dari UNESCO disebutkan bahwa hari diakuinya batik pada tanggal 2 Oktober sebagai hari nasional serta sebagai hari dimana segala aspek kelompok baik dalam lingkup pekerjaan, , organisasi masyarakat bahkan instansi pemerintah untuk mewajibkan memakai batik.

Dengan diakuinya batik maka sudah sepatutnya bangga karena sudah memiliki salah satu kebudayaan yang telah diakui oleh Dunia sebagai hasil kebudayaan warisan kemanusiaan atau hasil karya lukis dan tulis yang ada di Indonesia, sehingga itulah yang membedakan antara dengan budaya negara lain.

Menurut Soedarmo (2008) Istilah batik sendiri merupakan motif kain yang dibuat dengan teknik resist yang menggunakan metode yang dipanaskan kedalam canting atau wadah. Dari segi bahasa sendiri menurutnya berasal dari bahasa jawa yaitu “Amba” yang berarti panjang dan “Nitik” yang berarti menuliskan.

Melihat kebudayaan batik sendiri sangatlah bermacam-macam, dari teknik sendiri pun sangatlah beragam ada yang menggunakan canting ada pula yang menggunakan teknik celup bahkan cetak sablon, untuk segi motif sendiri setiap daerah pun juga berbeda-beda, contohnya saja pada motif batik khas Jawa dengan motif batik khas Bali, meskipun sama-sama batiknya namun dari pandangan filosofis sendiri berbeda.

Sehingga sangat penting sekali dalam mengenal serta memahami macam-macam batik. Dengan belajar pengetahuan Batik, maka akan membuka wawasan serta rasa kecintaan terhadap budaya membatik itu sendiri, baik mengenal motif batik maupun dalam mempelajari nilai filosofis yang dituangkan pada gambar batik yang dibuat.

Saat ini banyak sekali variasi model motif baju batik yang dipadukan dengan tren baju sekarang, contohnya saja banyak sekali yang memadukan antara batik dengan Jersey bola. Dengan memadukan motif serta permintaan pelanggan maka Industri Batik akan lebih menarik jika mempadukan variasi vibes budaya zaman dahulu dengan budaya zaman sekarang.

Namun faktanya tidak banyak orang bahkan generasi sekarang yang memiliki ketekunan membatik, hanya para sesepuh atau senior yang tahu motif-motif batik zaman dahulu dan masih memiliki ketekunan untuk mengerjakan batik, jika kebudayaan Batik ini tidak dilestarikan oleh generasi sekarang maka sangat dipastikan kebudayaan ini musnah seiring berkembangnya generasi mendatang.

yang menjadi pertanyaan saat ini,apakah dengan kita telah diakui oleh dunia akan mengubah mindset terhadap kebudayaan Indonesia menjadi baik?.

Tentunya tidak semua, banyak sekali saat ini cenderung memiliki sikap gengsi yang tinggi apabila mereka menggunakan produk lokal yang mendukung UMKM yang ada di dalam negeri, contoh sederhananya seperti memakai batik mereka beranggapan ini bahwa batik sendiri memang dianggap sebagian dari kebudayaan mereka namun dengan adanya baju yang bermerek menurut mereka lebih bermutu serta lebih modis atau bisa dibilang sesuai dengan zamannya.

Mengutip dari teori yang dikemukakan oleh Talcott Parson bahwa hakikat dari kebudayaan menjadi suatu kekuatan utama yang mengikat berbagai unsur berbagai aspek dunia sosial yang dapat menciptakan fungsi dan bukan sebaliknya tidak memiliki fungsi yang terkait dengan hubungan masyarakat.

Lantas bagaimana solusi supaya kebudayaan tsb dapat berkembang seiring berkembangnya waktu yaitu diadakannya sebuah Kebudayaan Nusantara, generasi muda akan tahu bahkan dapat mempelajari dan mempraktekkan sebagai langkah utama untuk memberikan sebuah wawasan yang luas dalam mengenal kebudayaan, tidak hanya kebudayaan Daerah saja akan tetapi seluruh Nusantara guna menjaga keberagaman budaya tanpa membedakan budaya lain serta menghindari dalam membandingkan bahwa kebudayaannya lebih baik dari pada daerah lain.

Bahwasannya sebagai generasi muda yang berintelektual serta harus bisa untuk peka serta tanggap melihat potensi serta permasalahan kebudayaan kita di Era Globalisasi yang kian maraknya akan teknologi, untuk itu ayolah kita bergerak bersama dalam menyelamatkan kebudayaan di nusantara ini supaya kedepannya kebudayaan di negeri ini bisa terselamatkan turun menurun ke anak, cucu bahkan cicit kita, jangan sampai anak cucu kita nanti tidak tahu sejarah lahirnya kebudayaan nusantara bahkan enggan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (*Bagus Sujana).

*Mahasiswa S1 Ilmu Pendidikan program studi PPKn di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.

Dapatkan update berita menarik lainnya hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di google news instagram serta twitter Jurnaljatim.com.