oleh

Bea Cukai Gandeng Kominfo Jombang Sosialisasi Cukai di Mojowarno

Jombang, Jurnal Jatim – Bea Cukai Kediri, gencar melaksanakan sosialisasi ketentuan di bidang cukai di Jombang, Jawa Timur untuk menekan peredaran rokok ilegal dengan menggandeng Dinas Kominfo kabupaten setempat.

Pada Rabu 16 Februari, kembali melakukan sosialisasi di Desa Mojowarno, Kecamatan Mojowarno dengan bekerjasama pemdes setempat.

Kepala desa Mojowarno, Tatag Yudianto, mengatakan sosialisasi cukai sangat penting bagi masyarakat. Sebab, cukai masih awam bagi masyarakat, meskipun sudah sering mendengar dari media massa.

“Tanpa disadari cukai rokok penyumbang terbesar bagi penerimaan negara. Secara pribadi, saya juga belum tahu dan saya yakin para perokok berat serta pedagang rokok, mungkin belum paham perbedaan rokok cukai asli dan rokok ilegal,” katanya usai sosialisasi, Rabu (23/3/2022).

Fungsional Bea Cukai Kediri, Ahmad Faesol, mengatakan cukai merupakan bagian dari pungutan negara yang nantinya akan dikembalikan kepada daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Sebagian dana cukai bisa dirasakan masyarakat secara langsung. Seperti kegiatan vaksinasi gratis, bantuan langsung tunai serta pembinaan keterampilan,” katanya.

Ia menyebut, cukai memiliki tantangan cukup besar, karena penerimaan negara di bidang cukai masih belum optimal akibat ada kebocoran. Salah satunya peredaran rokok ilegal.

Menurut data 2021, terjadi kebocoran dana cukai sebesar 4 persen atau sekitar Rp8 triliun. Sedangkan penerimaan negara di bidang cukai sekitar Rp180 triliun.

“Jika terjadi kebocoran dana, tentunya berpengaruh terhadap DBHCHT yang diterima oleh Kabupaten Jombang. Jika seharusnya bisa 100 persen, maka bisa menjadi lebih kecil,” tuturnya.

Dalam kegiatan pengawasan, petugas tidak bisa bekerja sendiri dan perlu koordinasi dengan instansi pemerintah, instansi non pemerintah termasuk dengan masyarakat. Ia menyebut, peran andil masyarakat, memiliki berpengaruh besar.

“Cukai di dasari oleh Undang Undang nomer 11 tahun 1995 yang diubah dengan Undang Undang nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Pada intinya, cukai adalah pajak terhadap barang yang mempunyai efek negatif bagi masyarakat serta lingkungan hidup. Salah satu contohnya adalah rokok,” ungkapnya.

Barang kena cukai antara lain barang hasil tembakau, minuman mengandung etil alkohol (miras) serta etil alkohol (alkohol murni). Kedepannya barang kena cukai akan bertambah, rencananya minuman kemasan yang menggunakan kadar gula akan dicukaikan.

Sebab, minuman yang kadar gulanya berlebih akan mempengaruhi kesehatan, bisa jadi terkena diabet serta penyakit lainnya.

Fungsi cukai, bukan sekedar masalah penerimaan tetapi juga masalah pengaturan. Mengatur masyarakat supaya tidak mengonsumsi suatu barang yang dianggap punya efek negatif secara berlebih.

Dapatkan update berita menarik lainnya hanya di Jurnaljatim.com, jangan lupa follow jurnaljatim.com di Google News.