oleh

Harga Pita Cukai Naik, Produsen Rokok di Jombang Menjerit

JOMBANG (Jurnaljatim.com) – Pemerintah telah menaikkan harga pita cukai rokok di awal Januari 2020. Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 136/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau per 1 Januari 2020.

Ketua Asosiasi Pengusaha Rokok Indonesia (APRI) Kabupaten Jombang, Abdul Rohman, mengungkapkan, dampak kenaikan harga pita cukai menyebabkan pihaknya bisa merugi dan bakal mengurangi pekerjanya.

Apalagi kenaikannya bisa mencapai 10 persen, jika dihitung rincian per keping menjadi Rp 110. Meski kenaikan hanya 10 rupiah, akan tetapi bila dikalikan dengan jumlah yang besar, pastinya juga terasa.

“Bagi kami perusahaan yang memproduksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) ini sangat berimbas pada produksi,” ujar Abdul Rohman kepada wartawan, Rabu (15/1/2020).

Dia mencontohkan, sebanyak satu rim berisi 60 ribu keping saat sebelum naik harganya 72 juta, tapi kini sudah naik menjadi Rp 79,2 juta. Memang hal sangat memberatkan pihaknya. Akibat kenaikan itu daya jual produsen turun cukup banyak.

Rohman merinci, untuk satu pack rokok berisi 12 batang, bilajika dikali Rp 110 x 12 batang sama dengan Rp 1.320. Jadi artinya, untuk satu pack itu harga pitanya Rp 1.320. Sementara, dalam satu bulan, pihaknya membutuhkan satu rim yang berisi 60 ribu keping pita.

“Jika kita kalikan, 1.320 x 60.000, sama dengan Rp 79.200.000 atau kita bulatkan menjadi Rp 79 juta,” tuturnya.

Kenaikan itu, kata dia, belum termasuk tambahan pajak lain. Seperti diantaranya, pajak daerah 10 persen dan pajak PPh 0,5 persen. Sedangkan, jika dihitung dari jumlah pita cukai yang dirinya beli, dalam sebulan pajak yang harus dibayarkan sebanyak Rp 7,2 juta untuk pajak daerah dan Rp 3,2 juta untuk PPh.

“Harga pita cukai rokok naik dan pajak juga naik. Seperti kita perusahaan rokok skala kecil merasa keberatan sekali dengan kenaikan itu,” kata pemilik perusahaan rokok di Desa Plandi, Kecamatan Jombang ini.

Kenaikan yang cukup memberatkan, membuat pengusaha mengurangi tenaga kerjanya (pekerja). Jika biasanya memakai 50 pekerja, saat ini menjadi hanya 20-an, lantaran kita tidak kuat untuk membayar gaji.

Selain pengurangan jumlah pekerja, lanjut Abdul Rohman, juga akan dilakukan pengurangan jumlah produksi rokok.

“Kalau sebelum naik, kita biasanya selama perbulan mengirimkan 100 sampai 120 karton ke distributor yang rata-rata di luar kota. Akan tetapi sejak tahun baru kemarin, cuman 40 karton saja saja itu sudah kesulitan dijual, jadinya stok barang di gudang kini numpuk dan tak bisa keluar,” pungkasnya.


Editor: Azriel