oleh

Room Karaoke Ajang Tempat Mesum dan “Transaksional” Esek esek

Banyaknya sejumlah lokalisasi yang telah ditutup pemerintah, tidak sedikit para eks PSK berpindah ke kafe-kafe karaoke. Kebanyakan bertopeng sebagai pemandu lagu atau biasanya orang orang menyebut seorang purel. Tak sedikit, didalam room kafe itu terjadi mesum hingga berujung transaksional dengan purel untuk di boking ke lokasi lain.
Memang, keberadaan para purel disebuah tempat karaoke, menjadi satu daya tarik untuk mendatangkan para tamu, terutama bagi tamu lelaki yang hidung belang.
Awalnya, tamu datang untuk melepas penat dan ingin menghibur diri setelah seharian melakukan rutinitas pekerjaannya, bisa hanyut dalam rayuan manis pemandu lagu.
Nah, saat ini maraknya berdiri cafe karaoke hampir ada disetiap kabupaten/kota. Tak sedikit ada purel yang datang dari sejumlah eks lokalisasi yang telah ditutup pemerintah. Jika di lokalisasi mereka bisa langsung melayani. Namun, untuk di kafe, mereka harus bertopeng sebagai penyanyi dan kemudian jika tertarik akan ada transaksi untuk ‘tancap gas’ keluar.
Wanita wanita seksi itu umumnya tidak terikat disalah satu tempat karaoke. Mereka lebih memilih sebagai pekerja freelance (bebas), dan menjual suara (menyanyi). Tarifnya pun bervariatif, antara Rp 75 ribu hingga Rp 200 ribu rupiah perjam, pendapatan tersebut belum termasuk saweran (tips) dari tamu.
Untuk bisa mendapatkan purel tersebut, biasanya pemesanan melalui pemilik kafe, ada pula yang sudah standby dan tinggal memilih ditempat.
Mawar (32) nama samarannya menceritakan, sebelum dia bekerja sebagai pemandu lagu, ia mengaku sebagai PSK disebuah lokalisasi di Surabaya. Namun, setelah penggusuran, Perempuan asal Kediri itu bekerja sebagai pemandu lagu disalah satu cafe di Nganjuk. Tarifnya pun Rp 75 ribu per jam.
Dalam sehari bisa “menjamu” tamu 4 jam hingga lebih. Praktis, janda satu anak itu bisa mengantongi uang Rp. 500 ribu hingga lebih per harinya.
“Kalau dapat Rp 500 ribu itu kecil, tapi jika sedang ramai, bisa mendapat Rp 600 ribu bahkan sampai Rp 1 juta,” tutur perempuan bertubuh seksi ini.
Kendati demikian, ia pun tidak menampik jika ada tamu yang minta pelayanan lebih dari dirinya. Dipeluk bahkan sampai dicium disaat berkaraoke, namun itu sudah bukan menjadi hal yang aneh baginya. Lalu bagaimana jika ada yang memboking dirinya? Mawar dengan sedikit tersenyum mengiyakan dengan catatan “harganya” sesuai.
“Itu diluar kafe. Kalau harganya cocok ya mau. Bagi saya bekerja mencari uang tidak lebih dari itu,” ucapnya.
Ia cuek dan tidak mau ambil pusing dengan kondisi sekitarnya. Baginya yang penting adalah mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan purel lainnya. Perempuan yang mengaku bernama Amel dengan tegas menolak jika ada yang mengajaknya untuk berkencan. Kalau hanya sebatas dicium ataupun diraba raba ia akan membiarkannya. Sebab, ia sadar profesinya sebagai penghibur tamu.
“Ya banyak yang nakal didalam room. Tidak hanya menyanyi, saya harus memberikan pelayanan yang ekstra. Terkadang dicium dan raba raba. Biasanya, akhirnya memberikan saweran (tips) yang lebih. Tapi kalau ada yang mengajak untuk lebih dari itu akan saya tolak,” tegasnya.
Amel mengaku, menjalani profesi tersebut karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi dirinya dan keluarganya.
“Saya bekerja seperti ini karena terdesak kebutuhan ekonomi, saya menghidupi anak seorang diri, sementara suami sudah cerai,”terang wanita asal Mojokerto ini.
Ia menuturkan dirinya tidak berani main di daerahnya dengan alasan malu sama tetangganya. “Kalau didaerah saya, takut ketahuan oleh keluarga dan tetangga,” ucapnya.
Menurut dia, baik keluarga maupun tetangganya tidak ada yang mengetahui profesi pekerjaannya. “Dua minggu sekali kadang saya pulang dan membawa uang. Mereka tahunya saya bekerja di Salon,” ucapnya sembari mengaku sudah 4 tahun menggeluti pekerjaannya dan berpindah pindah tempat.
Selain menjadi pemandu lagu, Della purel lainnya mengungkapkan saat melayani tamu ia pun harus rela menemani untuk meminum minuman beralkohol. Tak heran, ia pun terkadang ikut mabuk bersama pelanggannya didalam room karaoke.
“Jika tamu meminta yang macam-macam, saya sih tetap profesional saja. Banyak yang minta harus menemani minum. Saya pernah sampai mabuk,” ucapnya.
Wiyono, salah satu pelanggan cafe tak menampik jika para purel purel di cafe dapat di boking. “Usai nyanyi biasanya bisa, tapi harus dirayu. Semua rata rata bisa deh, kalau kantong kita tebal,” ujarnya.
Ditambahkan dirinya, tidak semua ditempat cafe bisa. “Kalau kita sudah kenal pasti bisa, bahkan gratis,” kelakarnya.
Terlepas bisa diajak indehoi ataupun tidak, didalam room sebuah cafe lebih banyak terjadi mesum walaupun itu tidak langsung. Minuman beralkohol menjadi konsumsinya. Bahkan, bisa menjadi tempat konsumsi narkoba. (*/jur)

Komentar